SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI PERADABAN AGUS THOHIR
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

Sekolah Alternatif Berbasis Kearifan Lokal Model Untuk Sekolah Alam


Pembelajaran sering di istilahkan dalam mendefinisikan tentang transformasi pengetahuan. Hal ini sering dikaitkan dengan guru dan murid, apalagi kalau bukan melegitimasi bahwa guru menjadi sumber prioritas belajar. Disini menjadi penting untuk di redefinisikan dengan peran dan fungsi sekolah untuk memberdayakan anak didik dengan difasilitasi oleh guru.
Proses merupakan suatu perubahan yang dilakukan secara continue, menjadi penting bahkan menjadi permanen dalam memberikan timbal balik atas perubahan kemampuan manusia dan diikuti oleh sikap dan perilakunya.

Rabu, 29 Desember 2010

Tahun 2011, Menggugat Indonesia dan Kemungkinan Tak Terbatas


Tahun 2011 sebentar lagi hadir menyambut kita, bahkan tinggal hitungan hari kita akan memasuki tahun yang memberikan banyak kemungkinan tak terbatas. Karena dalam benak saya terlintas spirit positif untuk menatap masa depan dan meretas nasib, semuanya tergantung dari apa yang kita lakukan pada saat ini yang mempertimbangkan sikap kita dari apa yang harusnya kita lakukan hari ini. Kemudian saya menegaskan dalam awal kalimat diatas ada harapan dan kemungkinan dari kata “tak terbatas”, itu menjadi konskuensi dini tatkala kita memberikan harapan dan keberanian untuk bertindak saat ini dan menjadi kebijakan laku untuk menyongsong esok yang lebih baik.

Realitas ke-Indonesiaan
Mari kita tengok sebentar tahun ini, dimana 2010 sebagai tahun yang pernah kita lalui dan kita hadapi. Berbagai hiruk-pikuk kejadian menguraikan bahwa 2010 akan menjadi pijakan untuk merefleksikan hamparan realitas yang ada. Mulai dari beruntun kejadian yang membuat kita tersayat dengan tragedi akibat bencana alam yang datang silih berganti menimpa saudara-saudara kita. Wasior di Papua Barat dengan banjir bandangnya. Di kepulauan Mentawai Sumatra Barat, gempa dan tsunami yang telah meluluh lantakkan banyak infrastruktur, serta letusan letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah yang kesemuanya menelan korban jiwa dan harta yang cukup
banyak.
Kemudian kebingaran warga Negara ini dengan sebutan “supporter” yang mendukung dan memberikan spirit positif kepada tim nasional sepak bola hingga “Garuda Didadaku” mampu menyihir jutaan mata. Sadar atau tidak kita telah melampaui kebiasaan dan kita harusnya lebih mengerti akan realita yang bergulir setiap detik, hingga menjadi hari, bulan dan tahun. Sehingga 2010 kini mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan. Keberagaman kondisi dan situasi yang mengkerucut dalam uforia social hingga menjulur dan menjadi benangkusut atas nama kebijakan. Bahkan tak banyak yang mengklaim dengan alas an tertentu oleh sekelompok kepentingan dipolitisasi menjadi keberhasilan mereka.
Sedemikian nyata bahwa masa telah memberikan jalan dan menorehkan cita, masa lalu biarlah menjadi pijakan kita dalam perlakuan sikap kita hari ini, mari kita jadikan masa lalu dan saat ini menjadi sejarah untuk kita torehkan menjadi pijakan yang lebih baik untuk masa depan mulai sekarang. Saat ini kita telah mengerti kondisi, dari kendala personal yang mempengaruhi system social hingga kendala mondial yang mempengaruhi cara berfikir hingga menjadi tindakan individu warga negara. Sungguh ini menjadi nyata apa adanya dari sederet masalah yang tak kunjung usai.
Persolan demi persoalan, solusi demi solusi hingga karena tak sanggup menguraikannya bahkan ada yang menggunakan cara lain yang tidak masuk akal dengan menggunakan mantra dengan mencari orang pintar. Memang itulah watak dari masyarakat kita, yang cenderung memilih jalan pintas. Biarlah kejadian yang menjelma dalam wujud lain ditafsirkan dengan berbagai paradigma (sudut pandang) dalam aksi lain yang pasti kita harus lebih bisa menjelaskan dalam langkah nyata.

Indonesia dan Kemungkinan
Indonesia, 2010 dan saya. 2011, semuanya dan dunia kini mulai berbenah dari kekacauan politik, ekonomi, social budaya hingga menerobos kemajuan aksi menjadi barang jadi berupa teknologi. Hingga saya kadang susah menguraikan dalam kata-kata yang terstruktur untuk menjelaskan hamparan 2010 dari yang paling “sepele” hingga yang paling dahsyat tampak dimata kita bahkan kadang tak bisa kita terima dengan akal sehat. Semua adalah hasil dari perlakuan kita dan alampun menjawab dengan caranya. Seperti apapun dan bagaimanapun semua sudah terjadi dan pastinya jika kita uraikan dalam berbagai ekspersi akan menghasilkan kebijakan yang berwatak kebijaksanaan.
Pertarungan ditubuh negera ini pun menjadi tontonan, elit-pun sedemikian rupa mencitrakan diri hingga atas nama rakyat mereka membuat kesepakatan yang membahayakan bahkan bisa menghancurkan akibat dari watak inlender. Bahkan “komparador”pun disematkan sebagai kalimat pengganti untuk memantapkannya. Negeri ini sedang sakit mencoba untuk bangun dan berlari mengejar Negara lain. Dengan segenggam harapan dari segelintir para kelompok pejuang “idealis” yang terus menggelontorkan idenya walau tidak begitu digubris bahkan mereka diacuhkan, semua akibat demokrasi kita telah tercemar oleh polusi.
Bagaimana kita bisa berkompetisi, seperti apakah kita bersikap mengejar harapan yang tersisa? Bahkan pertanyaan bertubi-tubi datang tatkala saya merenungi nasib ini, bangsa kita telah disakiti, rakyat ini telah terjangkiti oleh virus akut” pragmatisme”. Spiral realitas 2010 telah menghempaskan kita dalam kondisi seperti sekarang, membuat kita harus bisa berdiri menjadi tegak untuk menyusuri lorong-lorong gelap. Kapan lagi kalau bukan saat ini kita memberikan spirit baru progresifitas berfikir dan bertindak menatap masa depan.
2011 menjadi tahun baru bersanding dengan tahun baru hijriyah 1432, semua member harapan dan member tantangan dengan serba kemungkinan yang tak terbatas. Tidak ada yang tidak bisa, tidak ada ang tidak mungkin untuk memotivasi diri, karena dengan kebangkitan kita untuk menggugat Indonesia maka akan ada gairah hidup yang menggerakkan dalam bentuk nyata. Indonesia adalah tumpuan rakyat ini, kebangkitan pribadi akan mempengaruhi kebangkitan bangsa. Begitu juga pemimpin kita harus lebih tau apa yang harusnya di lakukan, dan menjadi contoh baik.
Bangsa ini penuh dengan spekulasi, masyarakat kita adalah pemicunya, mari singsingkan semangat yang menyala-nyala dan berkobar-kobar untuk memberi warna baru. Jika kita ingin berkualitas butuh tempaan dan waktu, begitu juga dengan negeri ini, supaya bangsa ini bisa kembali bangkit dari kelesuan dengan semangat nasionalismenya, maka suportifitas dalam bertandingpun harus bisa disemai dalam demokrasi dan tindakan elit negeri hingga ke masyarakat kita. Supaya bangsa kita bisa meraih kesempatan emas, maka 2010 adalah pijakan tahun yang akan berlalu menuju pintu baru tahun baru 1432 H dan 2011 M dan semangat baru.
Semua butuh keseriusan, semua butuh keberanian, kita butuh belajar dari masa lalu. Gagasan Indonesia ditenun dari berbagai harapan, perjuangan dan pengorbanan, semua hasil dari pergulatan ide dan kenyataan historis yang panjang. Mari kita bersama menjadi yang pertama, kapan lagi kalau bukan sekarang. Sejarah baru harus kita torehkan, peristiwa telah memisahkan dengan tegas antara; Indonesia sebagai sebuah harapan, dengan Indonesia sebagai sebuah tindakan.

Menggugat Masa Depan Dengan Harapan
Indonesia bukan lagi kita diamkan, Indonesia harus kita gugat, karena Indonesia adalah milik kita bersama, dengan patokan kesadaran maka kita akan mempunyai keberanian dan kita akan mampu menguraikan sikap dari pilihan terbaik kita. Dengan mengkristalnya persatuan dan kesatuan maka ditengah keberagaman dan toleransi kita harus mampu mengetengahkan gagasan Indonesia yang baru dan lebih mandiri. Bukan hanya sekedar refleksi yang menjadi ritual tiap akhir tahun, dan outlook “pembacaan masa depan” yang tanpa membuka paradigma.
Mari membuka mata, membuka hati dan membuka pikiran untuk menjadikan kebiasaan kita lebih dari sekedar berani dan baik, tapi lebih berani dan terbaik. Selagi kita optimis maka masa depan kita dapat kita ciptakan dengan gemuruh semangat yang ada. Yang jelas tantangan mengajarkan kita lebih bijak dan dewasa.
Masa depan gemilang dimulai hari ini, untuk menyambut esok yang lebih berarti. Semua yang kita pikirkan hari ini akan menuntun kita membuka kemungkinan baru tak terbatas untuk hari esok. Marilah kita siapkan dengan langkah nyata, tak ada yang tidak mungkin karena kemungkinan itu harus kita ciptakan mulai sekarang. Hidup adalah tindakan dan apa yang ada karena pilihan dan sikap untuk meletakkan tanggungjawab guna mendukung masa depan yang lebih cemerlang. Yakinlah pasti kita bisa untuk memulainya, pastinya dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.

Jakarta, 29 Desember 2010

Sabtu, 13 November 2010

STUDI KRITIS GERAKAN LINGKUNGAN UNTUK KERAKYATAN

Indonesia merupakan Negara yang melimpah sumberdaya alamnya mulai dari keanekaragaman hayati hingga keunikan alam lain pun tidak dimungkiri menjadi daya tarik tersendiri. Semua menjadi hamparan keajaiban yang kini mungkin telah mengalami perubahan yang luar biasa. Semua juga tidak lepas dari ulah tangan manusia yang ingin mendapatkan sebanyak-banyaknya dari alam lingkungan ini.
Bencana tanah longsor, banjir, hingga perubahan iklim yang terjadi merupakan dampak yang ditimbulkan karena berlebihannya manusia mengeksploitasinya hingga dalam titik tertentu alam ini memberi isyarat. Banyak bukti, mungkin dari lingkungan sekitar saya, kini para petani tidak lagi bisa menanam tanaman disawah sesuai dengan perhitungan musim, karena disaat kemarau menanam tanaman palawija (red; jagung,kacang, kedelai, semangka, melon dll) dihadapkan dengan tidak pastinya iklim yang berwujud hujan tiba-tiba yang terlalu sering. Ini jelas mengakibatkan gagal panen dan efek lain adalah kelangkaan atau susahnya produktifitas pertanian untuk memetik hasil, sehingga roda perekonomian masyarakat desa tersekat oleh pemasukan dari hasil panen yang berkurang bahkan tidak ada hasil hingga merugi.
Realitas kehidupan dan isi alam yang kini telah dikeruk tanpa mempertimbangkan efek jangka panjangnya sekarang sudah terasa dan jelas ini menjadi perhatian oleh semua kalangan. Jauh bila kita uraikan apa yang sebenarnya telah terjadi dan bagaimana untuk bisa mengatasi krisis ekologi akibat eksploitasi secara besar-besaran hingga salah urus. Entah mulai dari mana untuk bisa, minimal mengurangi aktifitas pembalakan liar atau sikap tindakan lain yang jelas-jelas mempunyai efek berbahaya untuk keteraturan perputaran isi bumi.

Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup sendiri merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Alam lingkungan juga menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia begitupun sebaliknya kehidupan manusia sangat tergantung pada tersediannya sumberdaya alam yang memadai dalam lingkungan hidup.
Ketergantungan manusia pada alam menjadikan mereka kecanduan untuk mendapatkan segalanya sehingga eksploitasi menjadi kata kunci untuk mengurai problem ekologi. Persoalan lingkungan hidup kini mulai menjadi topik yang mendunia. Ketika manusia mulai tersentak bahwa bumi sudah tidak ramah lagi dan mulai dirasakan dampaknya yang semakin meluas akibat berbagai aktivitas manusia itu sendiri yang dengan teknologinya cenderung eksploitatif dan membangun industri kotor sehingga membuat alam tidak mampu lagi memperbaiki dirinya sendiri secara alami. Dan sekarang persoalan lingkungan hidup lebih kompleks lagi.
Berbagai masalah lingkungan hidup oleh masyarakat dunia coba untuk ditanggulangi melalui pertemuan internasional. Wold summit yang diadakan diindonesia bertempat di bali tidak menghasilkan kesepakatan yang signifikan, bahkan hanya menjadi transaksi politik untuk mendesain kebijakan yang kadang itu dinilai tidak adil. Di belahan dunia antara negara berkembang dan negara maju mempunyai banyak perbedaan, disisi lain masyarakat barat yang mempunyai alat-alat produksi dan melakukan aktifitas perindustrian sehingga menyumbang emisi carbon tidak mau menguranginya diantaranya dieropa, amerika dan china.
Akibat dari bekerjanya sistem ekonomi neoliberal yang telah memperalat negara melalui para pemilik modal yang didukung oleh lembaga-lembaga keuangan internasional telah menambah panjang deretan masalah. Akumulasi dari korporasi negara adikuasa beserta sekutunya membuat kebijakan dengan dalih lingkungan sebenarnya secara eksplisit telah menjadikan bumi ini menjadi komoditas untuk mengeksploitasi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan ruang-ruang lain yang menurut mereka bisa “dikibuli (red ; ditipu untuk diiming-imingi).
Kerusakan lingkungan sudah menjadi hal yang pasti, penindasan dan penghisapan akan terus dilakukan hingga kata kesepakatan berwujud kebijakan yang menguntungkan mereka. Bisa dikatakan efeknya masyarakat lokal terpinggirkan oleh kesewenang-wenangan pemerintah yang sekokongkol memenangkan kebijakan “yang menguntungkan dan basah”. Penggusuran adalah realitas lain yang cenderung tidak mempertimbangkan masyarakat lokal, keamanan dan keselamatan hidup rakyat tidak lagi dipikirkan.
Politik bengis negara melahirkan kebijakan-kebijakan swastanisasi perusahaan negara, penerimaan investor secara berlebihan dan yang lebih berbahaya ekonomi negara berorientasi pada pasar dunia. Secara tidak langsung ini jelas berbahaya dan sudah banyak bukti dilapangan yang berserakan bahwa akibat korporasi negara yang tunduk kepada asing telah menambah banyak kerusakan lingkungan.
Saat ini sampai akhir tahun 2010 pemerintah menargetkan akan membentuk holding (induk) BUMN Perkebunan, rainy seluruh PTPN (I-XIV) dan PT Rajawali Nusantara (RNI) akan disatukan di bawah satu managemen.




Gerakan Lingkungan
Masyarakat secara umum merupakan kekuatan yang menjadi sumbu gerakan dan basis perubahan nyata. Pengalaman menarik bisa penulis uraikan, diantaranya mengurai gerakan social baru. Praktek dinamis kerja kreatif di gerakan organisasi rakyat, setidaknya ada beberapa problem pokok menjadi penyebabnya kenapa gerakan (organisasi tani, nelayan, buruh, perempuan, rakyat miskin kota dll) harus menggulirkan aksi massa.
Problem ekologi akibat kebijakan politik neoliberal telah menjadi bukti bahwa keberpihakan pemerintah lebih dominan memenangkan para investor dan swasta dalam pengelolaan lingkungan atas nama eksplorasi. Pada realitas nyata bukan hanya eksplorasi tapi cenderung eksploitatif. Bencana Ekologis adalah bencana yang diakibatkan gagalnya model pembangunan eksploitatif-destruktif yang diterapkan negara, yang mengakibatkan hancurnya tatatanan ekologis, sosial dan budaya serta sumber-sumber kehidupan rakyat. Akibat dari itu jelas efeknya terasa dan itu harus ada bentuk solusi-solusi, entah itu berupa gagasan maupun aksi praksis nyata.
Pokok dari gerakan lingkungan diantaranya perlu dilakukan satu pembenahan menyeluruh kerangka pengurusan global, regional dan nasional demi menjamin keselamatan warga, produktivitasnya, sekaligus kemampuan merawat jasa layanan alam. Aspek ini harusnya disadari dan difahami oleh semua elemen masyarakat, sehingga gerakan lingkungan bukan sesuatu yang sulit untuk menjaga dan menyelamatkan alam ini.
Disisi lain konskwensi gerakan banyak terjadi fragmentasi diakibatkan kekuatan politik dibajak oleh kepentingan tertentu, sehingga acapkali saling menegasikan diantara gerakan rakyat. Sudah lazim kita saksikan bentuk nyata fragmentasi gerakan dilapangan dalam menyikapi momen-momen tertentu, sehingga ini menjadi sesuatu yang perlu untuk dikonsolidasikan lebih massif, kalaupun ada harus dengan strategi berbeda dan kita harus bisa mengambil pelajaran dari kejadian semua.
Beberapa persoalan lain diantaranya, penguasaan territorial yang lemah, rendahnya semangat kerja dalam front persatuan, akses infoemasi pengetahuan yang terbatas dan lemahnya strategi untuk membingkai gerakan yang lebih massif. Dari beberapa persoalan tersebut sebagai bentuk tanggungjawab social kita semua sebagai bagisn dari gerakan harus ada rumusan yang mampu mengurai rentetan problem yang terus berkelindan di episentrum gerakan.

Resolusi Sederhana
Sebagai manusia biasa kita pun ingin sedikit berperan dan kita juga menyadari bahwa masalah lingkungan adalah masalah bersama. Banyak cara yang ada dipikiran untuk mengurai benang kusut masalah lingkungan hidup. Mau atau tidak kita tidak hidup sendiri suatu saat kita juga ingin mewarisi anak cucu kita dengan sesuatu yang baik, termasuk lingkungan. Semua dimulai dari diri sendiri (ibdak binnafsi) dan kemudian mengajak pada lingkungan sekitar kita.
Secara sederhana kita bisa melakukan banyak cara untuk menyelamatkan alam ini, bahkan dengan cara ekstrim sekalipun. Gerakan lingkungan bisa terwujud diantaranya dengan, membahasakan platform, kata kunci dari itu adalah “perubahan iklim mengacu pada perubahan apapun pada iklim dalam satu kurun waktu, baik karena variabilitas alami atau sebagai hasil dari aktivitas manusia”.
Sebelumnya, iklimlah yang mengubah manusia. Sekarang, kita sedang mengubah iklim, dan kita mengubahnya terlalu cepat. Sadar atau tidak premis itu sudah berlaku, perubahan iklim yang kita alami sekarang diakibatkan oleh ketergantungan umat manusia yang sangat besar akan bahan bakar, khususnya bahan bakar berbasis karbon, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Bahan bakar ini menghasilkan emisi gas rumah kaca
Fakta kerusakan lingkungan dilapangan diantaranya adalah, luas hutan Indonesia 50 tahun terakhir diperkirakan terus menyusut, dari 162 juta Ha menjadi 109 juta Ha. Hingga tahun 2008, WALHI mencatat 77 juta Ha dari 109 juta hektar hutan tropis Indonesia telah hilang, sehingga hutan tersebut tinggal 32 juta hektar. Untuk lahan sawit hingga 2008, total lahan yang dikonversi untuk perkebunan sawit telah mencapai 7,8 juta hektar, dan konflik kebun sawit yang terjadi mencapai 576 konflik. 57 % produksi minyak sawit mentah dijual ke keluar negeri, terutama ke Eropa. Kebutuhan dalam negeri, yang hanya 3 juta liter minyak sawit mentah pun tak mampu dijamin pemenuhannya.
Ancaman lain yang terjadi terbatasnya pasokan air dari rusaknya DAS. Dari 470 DAS di seluruh Indonesia, 64 DAS berada dalam kondisi sangat kritis dan rusak berat. Apalagi di pesisir, total luas wilayah perairan pesisir Indonesia yang berkisar 5,7 Juta KM2, hanya 1,8 juta KM2 atau 30% yang kondisinya masih baik. Sisanya, seluas 3,9 juta KM2, sekitar 70% rusak ringan hingga rusak berat.
Diantara yang bisa segera dilakukan untuk menguraikan saling sengkarut masalah alam lingkungan dengan mengubah paradigm berfikir masyarakat, bahwa persoalan lingkungan adalah tugas kita semua untuk menyelamatkan dan jangan pernah sekali-kali menangani lingkungan hanya dikaitkan untuk sector ekonomi bahkan dijadikan komoditas politik yang ujung-ujungnya duit. Cara selanjutnya memanfaatkan alam dengan tetap mempertahankan daya dukungn kawasan dan tidak melanggar ekosistem. Sebagai contoh pengelolaan terhadap daerah tangkapan air akan mempengaruhi habitat aliran sungai, estuari, perikanan dan terumbu karang
Komponen lain yang lebih penting, sudah saatnya pemerintah dapat memfasilitasi masyarakat social budaya yang partisipasi dengan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam serta memberikan peluang bagi pemenuhan kebutuhan sosial/budaya secara lintas generasi, dengan memperhatikan keragaman. Kemudian, memberikan ruang bagi tumbuhnya hukum lokal yang sesuai dengan karateristik daerah, Mendorong terselesaikannya masalah akses terbuka atas sumber daya alam (SDA) melalui kepastian hak atas SDA.
Tidak dibatasinya wilayah administrasi dan mendorong adanya kerjasama antar daerah. Tidak dibatasinya kawasan satu jenis ekosistem (kawasan konservasi), sekaligus sebagai dasar kebijakan untuk melakukan konservasi di luar kawasan konservasi. Ada ketergantungan wilayah darat dan laut yang dapat mengeliminir dikotomi darat dan laut. Hak individu atau hak komunitas dalam satu wilayah bioregion. Hak individu atau hak komunitas dalam satu wilayah bioregion dapat berbeda berdasarkan kesepakatankesepakatan komunal/lokal.
Kongklusi yang paling efektif adalah melibatkan semua organisasi yang focus ke alam dan memberikan ruang yang lebih luas, sekaligus mengadakan pendampingan pada masyarakat sekitar daerah yang benar-benar butuh itu semua. Gandhi pernah mengatakan “bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang (semua orang di muka bumi) tapi tak bisa mencukupi orang-orang (sebagian orang) yang rakus”. Jadi untuk menyelesaikan semua problem lingkungan semua ada pada persepsi dan sikap dari manusia yang peduli pada perbaikan untuk menyelamatkan alam raya ini.

Selasa, 17 Agustus 2010

Seikat Pendaran suci dari nikmat Allah

blockquote
Menyusuri fajar dengan keyakinan, ungkapan ini sedikit saya jadikan kata yang jadi pembuka dalam perjalanan pagi ini. Entah itu kuasa atau memang jadi permulaan dalam menatap aktifitas hari ini. Habis tadarus sambil menunggu adzan subuh menikmati sholawatan terjalin bait untaian ayat dibaca untuk mengisi waktu fajar ini, inilah rutinitas yang mengisi hari dibulan ramadhan. Selesai membaca dan mengkaji dalam setiap ayat saya mendapatkan makna yang inspiratif dan luar biasa dari bacaan ayat-ayat suci al Qur’an pagi ini.
Bukti-bukti kekuasaan Tuhan: Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan DIa Maha Mengetahui segala sesuatu. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan yang serupa dan untuk mereka didalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal didalamnya (kenikmatan syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani, maupun rohani).
Begitu balasan bagi orang yang beriman disampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik. Allah menyediakan banyak keberkahan dan kenikmatan yang tiada terkira, termasuk anda yang membaca tulisan ini. Karena saya sendiri bisa menulis ini mungkin tidak biasanya dan saya bisa menuruti tangan dan ide kreatif ini untuk menggerakkan jari jemari dengan rapi. Lebih dari apa yang kita nikmati dan Allah berikan pada semua makhluknya yang dijelmakan melalui segala kenikmatan hingga kita semua harusnya mengucapkan banyak terimakasih karena semuanya gratis.
Bensin satu liter saja dihargai Rp. 4500,- sedangkan kita bisa menikmati air dan sirkulasi dalam tubuh ini tanpa syarat apapun dan Allah memberikannya Cuma-Cuma. Gas LPG tabung tiga kilogram dihargai 13-15ribu sedangkan kita setiap hari, jam, detik bahkan sekon tanpa apapun Allah memerikannya pada kita semua, apa yang kurang dari apa yang telah diberikan kita tidak menyadarinya. Bila kita ukur dengan nilai fisik atau materi mungkin kita hutang banyak pada sang pemberi hidup ini Allah SWT, tapi Allah tidak pernah meminta baik yang tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semuanya tidak dibedakan dan mereka yang hidup diberikan banyak dan tinggal kita apakah sadar mengakuinya atau malah lupa tanpa peduli.
Rentetan uraian diatas saya hanya menganalogikan betapa banyak dan tak terhitung kita diberikan banyak dan bila dalam perumpamaan; tatkala manusia diciptakan dan nyamuk diciptakan, banyak alasan mungkin diciptakan pula kita sebagai manusia bila menjawab; ada yang merasa nyamuk itu merugikan dan ada yang bilang menguntungkan. Merugikan karena kita merasakan darah kita dihisap dan bahkan datang penyakit demam berdarah mungkin, tapi bagi mereka yang bisa menangkap peluang dijadikan berkah atau keuntungan besar mereka menciptakan obat nyamuk dan sejenisnya untuk menghindarkan manusia dari gigitan nyamuk dan mungkin dalam keadaan tertentu jadi sebab penyakit demam berdarah yang bisa mengakibatkan matinya manusia.
Semua sudah ada skenarionya, Allah maha tahu dari apa yang dipikirkan makhluknya. Kita hanya mengerti sedikit dapi apa yang kita prediksi dan itulah yang perlu kita renungkan. Sayapun merasakan hal sama pada pagi ini, entah apa tatkala kumandang azan subuh bersahut-sahutan dari masjid dan mushola yang ada disekitar rumah yang ditempati, saya mengajak teman untuk jamaah dan ketika itu saya menunggunya ternyata sudah datang iqomah, saya pun segera menuju masjid terdekat dengan jalan kaki. Sholat subuh pun sudah dimulai rekaat pertama, tiba-tiba saya mendengar bacaan ayat surat dalam al Qur’an dilantunkan setelah saya lihat ternyata didepan halaman rumah didirakan jama’ah shalat subuh, saya pun bergegas menuju barisan jamaah shalat tersebut. Tak terpikir lagi menuju masjid karena niatan saya adalah berjamaah. Selesai sholat saya baru sadar dan memikirkan kenapa bisa saya memilih jama’ah dihalaman rumah tersebut? Kembali keawal, bahwa keyakinan akan harapan saya untuk berjamaah ternyata terjawab dan adanya kekuasaan Allah bahwa dalam pesan yang didapatkan adalah uraian makna yang saya dapatkan keterkaitan dalam ayat al Qur’an tadi. Bahkan dalam makna lain yang saya dapatkan diantaranya adalah “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. Dalam makna yang lebih luas shalat sendiri merupakan fase spirit-ritual yang terkandung didalamnya yaitu shalat sebagai penolong dan menjadi tolok ukur dalam subtansi kesabaran. Memang berat untuk mencapainya karena yang bisa mencapainya adalah orang-orang yang khusuk.
Ya, mungkin banyak yang lain dan tersirat dalam fakta yang berbeda, karena kita sebagai ummat Nabi Muhammad pasti mengharapkan syafaatnya dan itu merupakan usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi oran lain. Jelas rincian nikmat tidak dapat kita uraikan hingga keujung yang lebih rumit, tapi dipastikan bahwa kita semua adalah ciptaan Allah yang harusnya mensyukuri dalam segalanya dan mengerti atas ciptaannya.
Sebagai akhir tulisan ini saya hanya merenungkan betapa dahsyatnya kekuasaan Allah. Kita kadang mengeluhkan apa yang ditimpakan pada kita sewaktu-waktu, padahal kalau dirunut dan dipikirkan ternyata Allah mempunyai maksud yang lebih untuk mengangkat derajat manusia bukan karena materi, tapi karena tingkat kesabaran dan ketakwaannya. Yaitu ketika menghadapi ujian cobaan yang dihadirkan dan kalau kita meyakini ternyata banyak yang tersirat tanpa syarat.
Begitu panjang bila saya uraikan, semoga apa yang tertulis ini mampu menjadi inspirasi bagi saya pribadi dan menjadi manfaat bagi pembaca sekalian yang mengerti, karena masih banyak kekurangan dari apa yang saya uraikan. Tapi bukan berarti tidak ada maknanya. Demikian dari apa yang menjadi inspirasi pagi bahwa keyakinan menjadi awal dari eksekusi sikap kita dan yang pasti kita harus bergegas untuk memulai dari apa yang sudah kita niatkan dengan keyakinan dan tinggal kita menjalankan diri dalam ranah kemanfaatan. Maha suci Allah dengan segala firmannya.
Saharjo, menjelang pagi.05.30/17/08/2010