SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI PERADABAN AGUS THOHIR

Jumat, 21 Januari 2011

HMI Tolak Kapitalisasi Pendidikan (03 Mei 2009)

SEMARANG- Sekitar 50 mahasiswa tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Semarang menggelar aksi demo menolak kapitalisasi dan liberalisasi pendidikan, Sabtu (2/5).

Dengan membawa berbagai atribut berupa bendera, spanduk, dan puluhan poster, mereka menggelar aksi di depan E Plasa, Kawasan Simpanglima.

Dalam aksinya itu, mereka meneriakkan yel-yel mengecam kapitalisasi dan liberalisasi pendidikan yang marak akhir-akhir ini.

Sembari berorasi bergantian, mereka menenteng spanduk bertuliskan ” Pendidikan Gratis untuk Rakyat Miskin”, Tolak Komersialisasi Pendidikan” dan ”Tolak Produk Pendidikan yang Tidak Pro Rakyat’’.

Ketua Umum HMI Semarang, Agus Thohir mengatakan, aksi itu merupakan keprihatinan atas terpuruknya dunia pendidikan di tengah melimpahnya anggaran pendidikan 20% dari APBN.

Dengan melimpahnya dana itu, terbukti tidak berimplikasi pada peningkatan kualitas guru, sarana dan prasarana sekolah, serta semakin buruknya pelayanan birokasi pendidikan di Indonesia.

”Dari berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia ini, kami menggelar aksi menuntut pemerintah melakukan pengawasan anggaran secara ketat di bidang pendidikan. Selain itu, kita juga menuntut dibatalkannya UU Badan Hukum Pendidikan yang menjadikan pendidikan hanya untuk orang berduit,” jelasnya.

Ditambahkan, pernyataan sikap itu adalah bukti kepedulian atas persoalan pendidikan yang tak kunjung membaik setelah reformasi 1998.

”Untuk itu, kita imbau seluruh elemen bangsa agar berjuang memajukan dan mewujudkan kesejahteraan bangsa yang lebih maju.”

Sebelumnya, mereka menggelar aksi teatrikal di bundaran Videotron Jl Pahlawan. Dalam pungkasan teatrikal, rencananya mereka akan menampilkan aksi bakar diri.

Namun, aksi nekat itu digagalkan polisi yang melakukan pengamanan saat aksi berlangsung. Urung menggelar aksi bakar diri, mereka melanjutkan orasi di kawasan Simpanglima selama 10 menit dan setelah itu membubarkan diri. (H55-56)

Sumber media : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/05/03/62040/HMI-Tolak-Kapitalisasi-Pendidikan-


Misi Masa Depan, Secercah Pijakan Untuk Refleksi Perubahan

Awal untuk memulai tulisan ini sebenarnya sangat sederhana, semua orang pasti ingin berterimakasih kepada yang ada disekelilingnya di saat tertentu. Di hari ulang tahun saya yang ke 25, banyak hal yang kudapatkan walau bukan dalam wujud materi. Semua wajib kita syukuri dengan cara yang lebih positif, bahkan dalam konteks tertentu kita harus mampu memaparkan dengan diskripsi kata.

Dihari kelahiran saya yang bertepatan pada tanggal 20 Januari 1986, yang bergulir hingga saat ini menginjak bilangan ke 25 seolah begitu cepat waktu itu, dan rentang waktu yang telah saya lewati memberi banyak hikmah. Mulai dari sederhana, ucapan yang bertaburan dari kawan yang berwujud lisan hingga tulisan perlu diapresiasi. Kadang saya juga merasa geli, tertawa sendiri ketika baca ucapan selamat ulang tahun, ada yang serius hingga berbalut canda diselipkan sebagai spirit untuk memecah kebuntuan. Bisa dibilang unik dan kreatif, pastinya terimakasih banyak kawan atas semuanya.

Di hari ulang tahun ini banyak persepsi yang muncul dari kepala saya, sebenarnya saya ingin menuliskannya dalam kata-kata yang sederhana dan mudah difahami, tapi yang keluar hanya bait kata yang tertata sehingga lebih banyak seperti puisi. Ya, mungkin itu keindahan, mungkin itu apresiasi yang keluar sehingga keterwakilan kata tetap dapat terurai dalam kalimat sederhana dan filosofis.

Tulisan ini saya teruskan sebagai argumentasi lain yang lebih terdokumentasi, karena ada yang berbeda dari biasanya. Kali ini seperti biasanya, setiap apa yang kita gulirkan merupakan ide kreatif sehingga memicu sikap kita agar kemudian hari ada pijakan untuk bias baik lagi atau lebih dari biasanya sehingga kita bisa menjadi luar biasa. Tidak ada yang tidak mungkin menjadi keterwakilan pokok tulisan saya ini.

Allah memberikan kesempatan pada kita hidup didunia ini mempunyai arti dan perlu kita apresiasi. Termasuk saat saat tertentu kita harus mampu berintrospeksi, agar ada perubahan dikelak kemudian hari. Apa yang saat ini kita pikirkan dan apa yang esok kita dapatkan akan menjadi akumulasi tindakan nyata. Sehingga yang kita miliki dan kita lakukan adalah bagian penting yang luar biasa. Bisa dibilang perubahan itu adalah konsistensi yang dapat kita tingkatkan menjadi kualitas hidup.

Ada tulisan yang menarik dari bait berirama dibawah ini;

Allah mentakdirkan umur, tapi tak tahu kapan kita mati !
Allah mentakdirkan jodoh, tapi tak tahu siapa dia !
Allah mentakdirkan rejeki tapi tak tahu berapa, dimana dan lewat apa kita mendapatkannya?
Allah mentakdirkan nasib, tapi tak tahu kapan sial, kapan beruntung?

Allah mentakdirkan kita hidup ini tentunya tidak sekedarnya dan hanya dengan tanda seru, tanda tanya atau bahkan tanda lain, yang pasti tanda yang dihadapkan ke kita semua menjadikan diri sebagai manusia yang siap bertegas diri memilih diantara pilihan hidup. Antara mudah dan susah, antara senang dan sedih, antara untung dan rugi dan seterusnya. Semua mengartikan pilihan dan permainan, sehingga peluang dapat terus kita ciptakan agar hidup lebih berguna dan mencapai nilai kemanfaatan.

Semoga di usia ke 25 ini ada pesan lain yang dapat saya uraikan dalam tindakan. Karena masih banyak yang belum diwujudkan, dan banyak tanda tanya yang bergulir dari kepala ini karena kita tidak tahu kapan dan seperti apa esok, lusa dan satu tahun kedepan dari nasib yang ditakdirkan, rejeki, jodoh yang tersisa akan umur yang dititipkan pada kita. Yang jelas saya harus berani berposes dan berubah, tidak ada kata lain selain menjadi diri sendiri yang siap menghadapi perubahan-perubahan besar.

Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik memberikan manfaat kepada sesamanya (hadits), sedikit saya mengutip hadits tersebut agar ada pilihan untuk bias saya sikapi, apapun yang saya lakukan jelasnya mampu memberikan manfaat terbaik kepada semuanya. Perubahan dan mitos selalu beriringan disetiap saat, yang lebih penting ada “Tekad” maka mitos dapat kita tepis dan perubahan dapat kita ciptakan. Itulah selaras antara ide yang bersanding dengan sikap tindakan, mau atau tidak pastinya kita memilih yang berkualitas agar kedewasaan berpihak pada kita.

Mungkin atau tidak ? sebagai awal di paragraph ini saya tuliskan dan tegaskan. Bisa mungkin bahkan bisa tidak, tapi mungkin semua tidak dan berlalu begitu saja kalau kita tidak berani memilih untuk masa depan kita. Mustahil atau tidak yang jelas semua bisa menjadi nyata sehingga kemungkinan dapat kita raih dan ciptakan. Jangan berikan kesempatan pada kata “ tidak” atau “ tidak bisa” tapi biasakanlah dengan kata “ Ya” atau “Bisa”, karena kalau kita menolak perubahan berarti kita tidak punya tekad kuat sehingga kita memperlemah diri kita.

Yang pasti esok adalah misteri yang harus kita ungkap agar kita menciptakan sesuatu yang lebih baik, karena dengan kita berani melakukan espektasi, berarti kita memberanikan diri menempa agar keberpihakan selalu kita sandarkan pada tekad dengan dosis tinggi. Berani sukses berarti berani bermimpi dan siap berjuang menghadapi resiko demi terwujudnya cita-cita, dan perlu diingat kita tidak boleh sembrono asal-asalan.

“Pikirane ubah, tangane polah, lan atine kudu pasrah” pikirannya harus dirubah “persepsi yang kita bangun” dengan cekatan dan cerdas, kita harus bertindak sigap dan tangkas dan tentunya kita harus ikhlas dengan semua yang telah kita jalani. Semoga kita bisa dan siap menyambut asa dan masa dengan tindakan, kebiasaan dan kebijaksanaan. Semua bisa kita laksanakan dan semua bisa sukses dikemudian hari dengan dimulai dari keyakinan kita, harapan kita, dan sikap nyata kita.

Maka, marilah segera putuskan mulai sekarang juga, mulailah dengan perubahan maka kita akan siap sukses dan kita akan menjemput impian. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri!, dan perubahan akan terus terjadi baik diharapkan atau tidak diharapkan. Modifikasi untuk masa depan semoga bisa segera dan dimulai sekarang dan kita siap menjadi yang terbaik dan luar biasa, Amien...

Jakarta, 20 Januari 2011

Kamis, 20 Januari 2011

Serambi Menggapai Kebahagiaan (25)

Alhamduillah,
Ucapan yang tersadur hingga terasa dalam relung jiwa ini
Rasa syukur karena telah diberi banyak harapan
Hingga detik ini, mungkin inilah anugrah
Atas kehendakMu
Wahai dzat yang memiliki alam seisinya

Hanya keigigihan untuk mengulas masa
Menembus batas ruang diantara sisa waktu
Berhadapan dengan keadaan
Menjawab segala tantangan
Menangkap hamparan peluang

Atas kewajaran
MencariMu wahai pemberi
Meneduhkan pandangan
Merencanakan masa depan
Dengan interaksi dari ide menerobos jiwa

Sikap dan kebahagiaan
Uang dan kebahagiaan
Kecerdasan dan komunitas
Kesehatan dan kebersamaan
Faktor lain menuju kebahagiaan
Kepuasan dan hingga tersandar agama

Kebahagiaan
Cinta hingga do’a

Berkorban
Bersahaja
Kearifan
Hingga hikmah menebus penderitaan

Sehat dan sakit
Mengiringi waktu dan melampaui
Sisa umurku
Semoga ada kekuatan
Meruwat diri dan merawat diri

Menghadapi waktu
Menata peluang
Menetapkan tujuan
Dengan mencipta kebahagiaan
Disetiap keadaan

Hingga bait kusayat kata
Kebahagiaan tak terasa hanya
Ketika mendapatkan
Apa yang kita inginkan
Tetapi lebih dari
Tatkala kita
Ketika menginginkan sesuatu
Apa yang telah kita dapatkan

Kepuasan yang telah didapatkan
Cintanya dalam qalbuku
Tatkala bangun terbelah suasana
Hingga sahutan panggilan sebelum fajar habis
Iringan iringan itu menjadikanku tentram

Apakah diri ini bisa tersenyum
Seketika bibir berlumur dzikir
Ada teramat banyak pekerjaan
Sementara waktu kita
Sangat sedikit sekali

Kuingat pesan ucapan
Kamu tentu berharap
Orang orang merayakan kelahiranmu
Dan menangisi kematianmu

Aku tidak tahu
Apakahada kebahagiaan yang singgah
Sementara hidup harus terus bergulir

Kuingin ada yang bisa
Kehidupan baru dengan teladan
Agar bisa berbeda dengan yang telah berlalu

Kebahagiaan adalah hidup
Didunia ini ada yang tersurut
Dan kebahagiaan bukan memiliki
Tapi mensyukuri yang telah diberi
Bukan menjadi dunia ini
Disitulah terletak
Hati yang bahagia
Dalam kehidupan kita

Semoga sisa waktuku
Memberi arti dikemudian hari
Didalam dunia ini untuk berkah menggapai setelahnya
Karena hakikat ada dalam tindakan bijak
Sehingga membuahkan kebahagiaan
Menuju makrifat

Jakarta, 20 Januari 2011 (04. 30)

*) Untuk kehadiranku didunia 25 tahun yang lalu, semoga Allah memberi yang terbaik, Amien...

Selasa, 18 Januari 2011

Mantra Keindahan

Keindahan yang kau hembuskan
Gemericik harapan yang senantiasa terdengar
Kesantunan yang berhias kasih
Begitu mampu menghempaskan egoisme
Sehingga hadir harapan suci

Wahai dzat yang sempurna
Engkaulah pemberi dari segala pemberi
Yang menciptakan segala keindahan
Harmoni semesta dihamparan kosmos
Tak ada yang mengerti saat engkau lambangkan
Tiada lagi yang mendiamkan arti
Semua begitu beralih dengan rinci
Hinggap rasa berbalut rahsa

Do'a do'a kupanjatkan
Kata kata kuuraikan
Bait spirit menggugah qalbu
Serasa harapan tak lagi di umpat
Berwujud mantra yang sangat sakti

Wahai pencipta yang menganugrahkan keinginan
Setiap jengkal usaha ini
Setiap julur harapan cita
Hingga engkau hadapkan pada proses terjal
Sehingga ku bersimpuh dihadapanmu

Mungkin ini masih misteri
Hingga berlinang tak ada henti
Semoga ada yang terbaik yang akan engkau hadirkan
Dari asa yang bersua
Menjadi wujud pasti
Hingga saatnya nanti

Perubahan demi perubahan telah engkau hadirkan
Sedikit demi sedikit engkau artikan
Baik tersirat maupun tersurat
Setiap yang hadir saat engkau limpahkan
Semoga ada cita yang bersinggah
Dalam kreasi membahana

Sedikit yang bergulir
Berliku dalam perjalanan
Tapi begitu indah disaat yang engkau janjikan
Tak ada yang pasti didalamnya
Kecuali keberanian bersinergi dengan hati
Hanya perubahan untuk masanya

Semoga kuasamu
Semoga dengan caramu
Semoga keindahan
Selalu menghadirkan yang terbaik
Dan engkaulah yang lebih tau
Semoga selalu dengan keindahan

Saharjo, Tebet, Jakarta....

Jumat, 14 Januari 2011

Pendaran Realita Manusia

Lingkaran bergelang itu menatapku
Bersisihan dengan gelas kaca
Kertas bersama seonggok besi tergeletak
Hingga terkesan lain
Apa arti yang tersisa

Barisan tertata,
Tumpukan putung rokok
Dihiasi dengan berjejer tabung air
Gemerlap cahaya kelap kelip
Bukti adanya sebuah kehidupan

Duniaku dan duniamu
Antara teknologi dan aplikasi
Dunia dibuat tidak berfungsi
Seolah kemenangan sudah didepan mata
Apakah manusia kini beralih tujuan…

Potret tercetak lembaran
Warna lusuh mengurai arti dari yang sebenarnya
Tembok tembok ikut menjadi saksi mata
Tertutup oleh hijab ide nyata
Semoga ada yang lain sebagai bukti

Manusia ,
Mari kita peduli
Jadikan hati untuk mencerminkan rasa
Memendarkan keteladanan
Sebagai hantaran lain yang berdetak
Antara ambisi dan nurani

Saharjo, Tebet; 14/01 2011

Kamis, 30 Desember 2010

Belajar Dari Kekalahan Untuk Bangkit dan Menang

Kekalahan kesebelasan Indonesia dari Malaysia dalam final pertandingan piala AFF 2010 disebut-sebut sebagai dampak buyarnya konsentrasi bisa dikatakan kurang fokus. Selain dua hal tersebut tekanan mayoritas untuk menang juga menjadi beban tersendiri untuk mereka pikul disaat tanding. Dari realitas kondisi tersebut menjadi beban mental yang terakumulasi dalam permainan. Mau atau tidak kita harus menerima kekalahan tersebut.
Indonesia tidak perlu malu belajar dari kekalahan dalam bertanding, juga harus belajar dari kemenangan tim Malaysia yang menjuarai pertandingan piala Suzuki AFF 2010. Dalam pertandingan ada menang dan kalah, siap juara harus mau menerima hasil dari pertandingan walaupun dengan hasil yang tidak memungkinkan juara. Inilah permainan yang selalu mengedepankan sportifitas.
Beban yang terlampau berat kini pun telah usai, walaupun hanya Runner Up kita harusnya bersyukur, karena masyarakat juga sudah tau kondisi dilapangan dalam pertandingan semalam. Mari kita semua belajar dari pertandingan semalam; pemain kini telah berusaha sungguh sungguh, dan kedepan harus disiapkan lebih matang dalam menyambut pertandingan-pertandingan agar Indonesia bisa menang.
Penonton "suporter" pun demikian sebagai pendukung harus bisa memberi teladan bagi semua, walaupun tim yang didukung kalah jangan sampai kemudian mengalihkan gelora semangatnya ke hal-hal yang negatif yang mencederai pertandingan. Masyarakat publik pun harus bisa memberikan teladan bagi generasi, dengan memberikan nasihat ataupun saran positif bahwa semua ini adalah pertandingan dan setiap pertandingan akan membawa koskuensi, menang atau kalah, dan kita harus siap menerimanya.
Dalam ranah lain, publik kita dihadapkan pada realitas olahraga yang berbaur dengan politik, dengan cara yang kadang kurang pas dalam posisi tertentu, menyambut suksesnya tim nasional menembus final bak pendukung fanatik kemudian elite menghibahkan fasilitas kepada tim nasional sebagai jasa " yang memberikan kesan" politik pun ingin diakui atas prestasi tim garuda Indonesia.
Egoisme politik pun kentara, dalam kondisi tertentu bisa kita lihat instruksi elite dalam mempengaruhi kebijakan PSSI untuk mengambil keuntungan bahwa dalam saat seperti itu siapa yang mempunyai kekuatan dalam ranah politik arogansi juga ditampakkan. Menurut hemat saya gejala "polusi kebijakan" diatas kepentingan olahraga harusnya diminimalisir dalam kondisi tertentu, karena ini juga menjadi faktor penentu lain yang mengakibatkanmempengaruhi mentalitas pemain. Akumulasi lain dari disfungsi tanggungjawab pertandingan elit politik membawa efek kurangnya kesolidan dari semua unsur. Inilah yang berbahaya dan berdampak pada efek kefokusan dalam segalanya.
Persepsi politik yang semakin belukar telah melukai publik, bahkan sikap partisipasi juga, harusnya untuk mendukung kemenangan tim kita, semua struktur yang mempunyai kebijakan harusnya lebih bijak dan tahu bagaimana memberi yang terbaik untuk warganya dalam mendukung tim. Bukan malah sebaliknya memainkan kondisi, tiket harganya dinaikkan dan ini sangat tidak rasional. Ini termasuk bentuk pemerasan dengan eskalasi harga tiket. Diskriminasi dan eksploitasi inilah yang jelas-jelas menindas, dan inilah hamparan sistem yang dikotori oleh kepentingan politik tertentu.
Olahraga dan politik boleh bersanding, tapi ada tempatnya tersendiri. Strategi politik dalam olah raga adalah hal yang wajar tapi ini sebalilknya politik dijadikan komoditas untuk mengklaim olahraga sebagai sebuah keberhasilan. Tendensi kepentingan selalu dominan dan melukai, kenapa saya berkata demikian, karena ini jelas ada kepentingan pribadi diatas kepentingan golongan. Jelas ini tindakan tidak terpuji dan lalim, ideologi "egoisme" telah menjadikan tidak warasnya para pemimpin elite, persekongkolan dan sikap berupa tindakan lain menjadi penyakit yang tidak kunjung usai dan sulit dicari obatnya.
Motif terselubung dan tersembunyi diatas sebenarnya menjadi artikulasi nyata dari perilaku politik yang berat ditanggung, logika yang digunakan cenderung asal tendang, tanpa memikirkan kepentingan mayoritas. Lagi-lagi rakyat hanya sebagai penonton. Seharusnya semua bisa diakhiri dan obatnya mudah, semua harus mengeti, bahwa kejujuran, kesadaran dan kemauan untuk mementingkan kepentingan umum diatas kepentinga pribadi dan menghempaskan komoditas dalam kepentigan tertentu akan mampu mengurai benang kusut hamparan problematika diatas.
Jangan sampai ini berdampak negatif lebih panjang. Semua ini memang permainan, ada yang menang dan ada yang kalah. Tapi ada yang lebih dari itu untuk kita pikirkan dan kita renungkan. Untuk bisa bangkit dan berhasil dimasa mendatang kita harusnya mau belajar dari masa lalu hingga hari ini, kenapa kita kalah? Dari situ kita akan mampu merefleksikan dan memulai yang baru menjelang tahun baru.
Memang sportifitas, konsentrasi dan fokus adalah sesuatu yang sangat penting. Factor tersebut akan memberi arti sendiri. Indonesia masih ada harapan, tinggal kita memilih kapan kita mau menang dan kita harus memulai dari pelajaran penting dari kekalahan. Untuk mencapai kemajuan ada yang lebih dimasa kita, yaitu mengisi waktu dengan aktifitas yang positif. Kita harus bisa menggulirkan ide menjadi sesuatu yang konkret. Perubahan dan perbaikan untuk masa depan ada pada kita semua, kita masih punya masa depan untuk kita menangkan dalam segalanya yang akan kita tentukan dari pelajaran hari ini.
Tentunya ada yang lebih penting dari kita semua, kita harus menghilangkan ideologi “pragamatisme” yang cenderung merusak moralitas. Kekuatan ada pada harapan dan ideology yang dianut, termasuk para elite yang harusnya member contoh, apalagi para pemimpin! Harusnya mereka lebih mengerti apa yang terbaik untuk rakyat dan negeri ini. Pemerintah, masyarakat, warga dan pasar adalah koneksi yang akan terakumulasi dan kompleks. Siapa yang mudah tergoda dalam tarikan “pragmatisme” maka disitulah akan terjadi penipuan dan penindasan.
Akankah kita diam ? Atau kita tergerak untuk menghentikan kekacauan, marilah kita bersama belajar dan belajar dari realitas hamparan panjang yang terjadi dinegeri ini. Kita bisa, kita punya kekautan dan kita mampu menang siap untuk menjadi juara.

Jakarta,
Akhir tahun,30 Desember 2010

Rabu, 29 Desember 2010

Tahun 2011, Menggugat Indonesia dan Kemungkinan Tak Terbatas


Tahun 2011 sebentar lagi hadir menyambut kita, bahkan tinggal hitungan hari kita akan memasuki tahun yang memberikan banyak kemungkinan tak terbatas. Karena dalam benak saya terlintas spirit positif untuk menatap masa depan dan meretas nasib, semuanya tergantung dari apa yang kita lakukan pada saat ini yang mempertimbangkan sikap kita dari apa yang harusnya kita lakukan hari ini. Kemudian saya menegaskan dalam awal kalimat diatas ada harapan dan kemungkinan dari kata “tak terbatas”, itu menjadi konskuensi dini tatkala kita memberikan harapan dan keberanian untuk bertindak saat ini dan menjadi kebijakan laku untuk menyongsong esok yang lebih baik.

Realitas ke-Indonesiaan
Mari kita tengok sebentar tahun ini, dimana 2010 sebagai tahun yang pernah kita lalui dan kita hadapi. Berbagai hiruk-pikuk kejadian menguraikan bahwa 2010 akan menjadi pijakan untuk merefleksikan hamparan realitas yang ada. Mulai dari beruntun kejadian yang membuat kita tersayat dengan tragedi akibat bencana alam yang datang silih berganti menimpa saudara-saudara kita. Wasior di Papua Barat dengan banjir bandangnya. Di kepulauan Mentawai Sumatra Barat, gempa dan tsunami yang telah meluluh lantakkan banyak infrastruktur, serta letusan letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah yang kesemuanya menelan korban jiwa dan harta yang cukup
banyak.
Kemudian kebingaran warga Negara ini dengan sebutan “supporter” yang mendukung dan memberikan spirit positif kepada tim nasional sepak bola hingga “Garuda Didadaku” mampu menyihir jutaan mata. Sadar atau tidak kita telah melampaui kebiasaan dan kita harusnya lebih mengerti akan realita yang bergulir setiap detik, hingga menjadi hari, bulan dan tahun. Sehingga 2010 kini mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan. Keberagaman kondisi dan situasi yang mengkerucut dalam uforia social hingga menjulur dan menjadi benangkusut atas nama kebijakan. Bahkan tak banyak yang mengklaim dengan alas an tertentu oleh sekelompok kepentingan dipolitisasi menjadi keberhasilan mereka.
Sedemikian nyata bahwa masa telah memberikan jalan dan menorehkan cita, masa lalu biarlah menjadi pijakan kita dalam perlakuan sikap kita hari ini, mari kita jadikan masa lalu dan saat ini menjadi sejarah untuk kita torehkan menjadi pijakan yang lebih baik untuk masa depan mulai sekarang. Saat ini kita telah mengerti kondisi, dari kendala personal yang mempengaruhi system social hingga kendala mondial yang mempengaruhi cara berfikir hingga menjadi tindakan individu warga negara. Sungguh ini menjadi nyata apa adanya dari sederet masalah yang tak kunjung usai.
Persolan demi persoalan, solusi demi solusi hingga karena tak sanggup menguraikannya bahkan ada yang menggunakan cara lain yang tidak masuk akal dengan menggunakan mantra dengan mencari orang pintar. Memang itulah watak dari masyarakat kita, yang cenderung memilih jalan pintas. Biarlah kejadian yang menjelma dalam wujud lain ditafsirkan dengan berbagai paradigma (sudut pandang) dalam aksi lain yang pasti kita harus lebih bisa menjelaskan dalam langkah nyata.

Indonesia dan Kemungkinan
Indonesia, 2010 dan saya. 2011, semuanya dan dunia kini mulai berbenah dari kekacauan politik, ekonomi, social budaya hingga menerobos kemajuan aksi menjadi barang jadi berupa teknologi. Hingga saya kadang susah menguraikan dalam kata-kata yang terstruktur untuk menjelaskan hamparan 2010 dari yang paling “sepele” hingga yang paling dahsyat tampak dimata kita bahkan kadang tak bisa kita terima dengan akal sehat. Semua adalah hasil dari perlakuan kita dan alampun menjawab dengan caranya. Seperti apapun dan bagaimanapun semua sudah terjadi dan pastinya jika kita uraikan dalam berbagai ekspersi akan menghasilkan kebijakan yang berwatak kebijaksanaan.
Pertarungan ditubuh negera ini pun menjadi tontonan, elit-pun sedemikian rupa mencitrakan diri hingga atas nama rakyat mereka membuat kesepakatan yang membahayakan bahkan bisa menghancurkan akibat dari watak inlender. Bahkan “komparador”pun disematkan sebagai kalimat pengganti untuk memantapkannya. Negeri ini sedang sakit mencoba untuk bangun dan berlari mengejar Negara lain. Dengan segenggam harapan dari segelintir para kelompok pejuang “idealis” yang terus menggelontorkan idenya walau tidak begitu digubris bahkan mereka diacuhkan, semua akibat demokrasi kita telah tercemar oleh polusi.
Bagaimana kita bisa berkompetisi, seperti apakah kita bersikap mengejar harapan yang tersisa? Bahkan pertanyaan bertubi-tubi datang tatkala saya merenungi nasib ini, bangsa kita telah disakiti, rakyat ini telah terjangkiti oleh virus akut” pragmatisme”. Spiral realitas 2010 telah menghempaskan kita dalam kondisi seperti sekarang, membuat kita harus bisa berdiri menjadi tegak untuk menyusuri lorong-lorong gelap. Kapan lagi kalau bukan saat ini kita memberikan spirit baru progresifitas berfikir dan bertindak menatap masa depan.
2011 menjadi tahun baru bersanding dengan tahun baru hijriyah 1432, semua member harapan dan member tantangan dengan serba kemungkinan yang tak terbatas. Tidak ada yang tidak bisa, tidak ada ang tidak mungkin untuk memotivasi diri, karena dengan kebangkitan kita untuk menggugat Indonesia maka akan ada gairah hidup yang menggerakkan dalam bentuk nyata. Indonesia adalah tumpuan rakyat ini, kebangkitan pribadi akan mempengaruhi kebangkitan bangsa. Begitu juga pemimpin kita harus lebih tau apa yang harusnya di lakukan, dan menjadi contoh baik.
Bangsa ini penuh dengan spekulasi, masyarakat kita adalah pemicunya, mari singsingkan semangat yang menyala-nyala dan berkobar-kobar untuk memberi warna baru. Jika kita ingin berkualitas butuh tempaan dan waktu, begitu juga dengan negeri ini, supaya bangsa ini bisa kembali bangkit dari kelesuan dengan semangat nasionalismenya, maka suportifitas dalam bertandingpun harus bisa disemai dalam demokrasi dan tindakan elit negeri hingga ke masyarakat kita. Supaya bangsa kita bisa meraih kesempatan emas, maka 2010 adalah pijakan tahun yang akan berlalu menuju pintu baru tahun baru 1432 H dan 2011 M dan semangat baru.
Semua butuh keseriusan, semua butuh keberanian, kita butuh belajar dari masa lalu. Gagasan Indonesia ditenun dari berbagai harapan, perjuangan dan pengorbanan, semua hasil dari pergulatan ide dan kenyataan historis yang panjang. Mari kita bersama menjadi yang pertama, kapan lagi kalau bukan sekarang. Sejarah baru harus kita torehkan, peristiwa telah memisahkan dengan tegas antara; Indonesia sebagai sebuah harapan, dengan Indonesia sebagai sebuah tindakan.

Menggugat Masa Depan Dengan Harapan
Indonesia bukan lagi kita diamkan, Indonesia harus kita gugat, karena Indonesia adalah milik kita bersama, dengan patokan kesadaran maka kita akan mempunyai keberanian dan kita akan mampu menguraikan sikap dari pilihan terbaik kita. Dengan mengkristalnya persatuan dan kesatuan maka ditengah keberagaman dan toleransi kita harus mampu mengetengahkan gagasan Indonesia yang baru dan lebih mandiri. Bukan hanya sekedar refleksi yang menjadi ritual tiap akhir tahun, dan outlook “pembacaan masa depan” yang tanpa membuka paradigma.
Mari membuka mata, membuka hati dan membuka pikiran untuk menjadikan kebiasaan kita lebih dari sekedar berani dan baik, tapi lebih berani dan terbaik. Selagi kita optimis maka masa depan kita dapat kita ciptakan dengan gemuruh semangat yang ada. Yang jelas tantangan mengajarkan kita lebih bijak dan dewasa.
Masa depan gemilang dimulai hari ini, untuk menyambut esok yang lebih berarti. Semua yang kita pikirkan hari ini akan menuntun kita membuka kemungkinan baru tak terbatas untuk hari esok. Marilah kita siapkan dengan langkah nyata, tak ada yang tidak mungkin karena kemungkinan itu harus kita ciptakan mulai sekarang. Hidup adalah tindakan dan apa yang ada karena pilihan dan sikap untuk meletakkan tanggungjawab guna mendukung masa depan yang lebih cemerlang. Yakinlah pasti kita bisa untuk memulainya, pastinya dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.

Jakarta, 29 Desember 2010