Unjuk rasa yang berlangsung kemarin bertepatan pada tanggal 20 oktober menjadi momen penting dalam dinamika politik-sosial ke-Indonesiaan. unjuk rasa memperingati satu tahun pemerintahan SBY -boediyono yang berlangsung didepan istana ke-presidenan pun bahkan menggema diberbagai pelosok penjuru daerah. ini menjadi bukti bahwa mahasiswa, buruh dan LSM menyuarakan aspirasi rakyat.
Aksi yang terjadi memperlihatkan mata saya bahwa realitas yang terjadi memberi bukti diantara massa ada yang terkoordinir solid dan ada yang memang mereka membuat suasana menjadi ricuh. bila saya telisik lebih dalam kacamata idealisme gerakan, menjadi menarik jika dipetakan dalam paradigma dan alasan kenapa mereka aksi. banyak diantara masyarakat bertanya terhadap aksi yang terjadi dimana-mana, apakah massa aksi tersebut adalah titipan yang dibayar oleh elit? pertanyaan itu menjadi keprihatinan dari saya, apalagi dalam kondisi genting saat ini kita bisa melihat mana yang seharusnya aksi-aksi disuarakan oleh mahasiswa yang memilih idealis dan independen atau malah cenderung pragmatis.
Aksi unjuk rasa tentunya mempunyai alasan tersendiri dan pastinya akan mengusung pesan kekacewaan atas kebijakan yang berdampak pada masyarakat secara mayoritas. apalagi aksi kekacewaan terhadap pemerintahan SBY-budiono, jelas jelas menjadi bukti bahwaprsiden beserta kroni-kroninya tidak dapat mengemban amanah rakyat, apalagi janji-janjinya saat kampanye PILPRES acapkali hanya menjadi lipstik kampanye politik dan berujung pada pembualan-pembualan.
Sadar atau tidak mahasiswa telah menggelorakan semangat revolusi walaupun masih ada yang setengah hati. aksi kemarin menjadi sederetan PR panjang kita semua, saat saya ditengah kepungan massa aksi melihat betapa bengalnya pemerintahan dinegara ini, mereka yang dipercaya tidak mampu mengambannya sedangkan aksi dengan ribuan massa ternyata disambut oleh aparat yang bersiaga dengan jumlah yang lebih banyak, apakah ini yang dinamakan "PENGAMANAN", mengerti atau tidak bahwa ini menakut-nakuti masyarakat yang tidak mempunyai nyali dan menjadi teror tembak ditempat bagi aksi yang dinyatakan ricuh.
klaim-klaim diatas merupakan bentuk demoralisasi aparat dan melawan asas demokrasi yang harusnya bersinergi tanpa ada represifitas aparat terhadap rakyat. jangan sampai kejadian yang mengakibatkan seorang mahasiswa terkena peluru dijakarta kemarin dan penangkapan massa aksi diliaht sebalah mata, kita perlu mengoreksi. memang ada beberapa massa aksi tidak sehat " berkepantingan untuk sekedar diekspose media" untuk pencitraan organisasi dan inilah yang kemudian memecah soliditas aksi aliansi dan front besar yang harusnya bisa bersatu. ada yang berkepentingan dengan titipan dan ada yang berkepentingan dengan bertabrakannya masalah dilapangan disulut oleh oknum-oknum yang menginginkan kericuhan. yang paling menyedihkan terindikasi beberapa massa aksi sudah dulu meminum-minuman keras (alkohol) inilah yang membuat saya sedih,kenapa disaat idealisme menggema ada orang yang tidak senang kemudian menyusup massa aksi tandingan dengan cara yang sangat tidak intelek.
Tapi itulah realitas, dalam kurun massa yang begitu besar ada saja ulah yang dilakukan oleh massa aksi untuk berebut media dengan menampilkan aksi yang mungkin lebih seksi dengan anarkis. tuntutan rakyat jelas mereka semua ingin membangunkan keadilan yang kini tersita dan terbelenggu oleh para penguasa. probelem kemiskinan kian hari bukan malah berkurang tapi malah kian bertambah, rakyat belum sejahtera, apalagi msalah kedaulatan negara dan dpenghormatan terhdap hak asasi manusia. kooptasi jelas nyata terhadap semua kebijakan yang diputuskan dan tangan asing bermain cantik dengan menghasilkan undang-undang ayang sengaja sudah dipesan melalui elit penguasa.
teriakan masayarakat dalam massa aksi yang dimotori oleh mahasiswa menjadi bukti bahwa sebagisn besar msyarakat menginginkan perubahan akan nasib bangsa. Berbagai kebijakan neoliberal yang merupakan kelanjutan dari pemerintahan SBY yang pertama ini seharusnya dapat diakhiri bila pemerintah sungguh-sungguh menegakkan kemandirian ekonomi dan kedaulatan nasional. Namun kini jelaslah bahwa kepentingan bangsa bukanlah agenda prioritas pemerintahan SBY-Budiono. Sejak dilantik setahun yang lalu, pemerintahan SBY-Budiono hanya meneruskan dan bahkan menegaskan sifat kebijakan yang merugikan bangsa seperti di bawah ini:
1. Pro Penjajahan Asing.
Sejak sebelum terpilih pun SBY-Budiono adalah pasangan yang difavoritkan oleh kekuatan finansial di pasar modal dan perusahaan-perusahaan raksasa asing seperti Chevron, Halliburton, Freeport, ExxonMobil yang telah mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan serakah dan menyebabkan kemiskinan dan penderitaan penduduk setempat. Sebagai contoh, perusahaan transnasional raksasa asal AS, Freeport, mengeruk tambang emas terbesar di dunia yang terletak di Papua, sementara nilai royalty yang dibayarkannya ke pemerintah adalah yang terendah di dunia. Bentuk-bentuk penjajahan seperti ini berlangsung di seluruh penjuru negeri tanpa ada inisiatif sungguh-sungguh oleh pemerintah SBY-Budiono untuk menghentikannya atau menegosiasikan kesepakatan yang lebih menguntungkan.
Begitu pun institusi keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) berdiri di belakang SBY-Budiono karena pemerintahan ini gemar menggunakan utang yang mereka tawarkan, yang sesungguhnya menjerat bangsa ini dalam ketergantungan. Cara pembayaran utang yang dilakukan oleh SBY-Budiono - yakni dengan bergantung pada pengetatan anggaran, pemotongan subsidi, dan ekspor bahan baku - dilakukan menurut dikte negeri-negeri penjajah/imperialis (negeri G-7) yang diinstruksikan kepada negeri-negeri berkembang dalam pertemuan-pertemuan G-20. Sebagai bentuk kepatuhannya, SBY-Budiono memangkas subsidi sebesar Rp 26,5 trilyun dalam RAPBN 2011.
Pemerintah SBY-Budiono menunjukan peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB/GDP) sebagai bukti keberhasilan kebijakan ekonominya. Yang tidak disinggung oleh mereka adalah sebagian besar angka PDB tersebut merupakan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Sementara yang dirasakan oleh mayoritas rakyat adalah biaya hidup yang melonjak, kemiskinan yang meluas, dan lapangan kerja yang menyusut.
Tidaklah mengherankan bila SBY-Budiono mendapat berbagai pujian dan penghargaan dari pihak asing. Majalah “Time” menempatkan SBY sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia, “The Economist” menyebut SBY sebagai “kampiun bagi investor asing”, dan pidato SBY di Universitas Harvard diklaim sebagai terbaik dalam abad ke-21 oleh seorang penulis AS . Sebaliknya, di mata rakyat Indonesia, SBY semakin tampak sebagai seorang Gubernur Jendral yang bekerja untuk kaum penjajah dan oleh karenanya tidak pernah berpihak pada kepentingan bangsa.
2. Menyingkirkan Rakyat dari Demokrasi.
Bertentangan dengan klaim keberhasilan SBY-Budiono tentang demokrasi yang berkualitas; di bawah pemerintahan mereka kualitas demokrasi justru merosot tajam. Dalam menjamin hak dasar demokrasi saja, yakni hak berserikat dan berkumpul, SBY-Budiono telah gagal melaksanakan kewajibannya. Penyerangan kelompok Islam fundamentalis terhadap acara-acara politik kerakyatan, hingga terhadap jemaat HKBP di Bekasi, menunjukan bahwa pemerintah SBY-Budiono berulangkali tidak mampu melindungi warga negara dan menjamin pelaksanaan hak berserikat dan berkumpul sebagaimana termaktub dalam UUD 45 pasal 28.
Praktek demokrasi elektoral sendiri semakin penyakitan dengan maraknya politik uang yang menyebabkan politik berbiaya tinggi (high-cost politics). Dengan praktek politik seperti ini, peran rakyat dalam menentukan pilihan dan mencalonkan diri untuk dipilih menjadi tersingkir dan digantikan dengan kepentingan pihak-pihak yang memiliki modal raksasa. Tak lain dari SBY-Budiono dan partai pendukungnya, Partai Demokrat, yang paling diuntungkan oleh politik uang semacam ini.
3. Gagal Memberantas Korupsi.
Catatan pemberantasan korupsi menunjukan perkembangan yang minus. Alih-alih korupsi diberantas, SBY-Budiono justru mengambil kebijakan-kebijakan yang menolong koruptor. Bulan-bulan awal SBY-Budiono memerintah ditandai dengan upaya kriminalisasi dan pelemahan Komite Pemberantas Korupsi (KPK). Kasus Bank Century yang begitu penting dan kakap diupayakan untuk digiring ke jalan buntu oleh para wakil-wakil Partai Demokrat di DPR. Ketika mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dipanggil oleh KPK untuk memberikan keterangan terkait kasus tersebut, SBY memindahkannya ke AS. Kekecewaan demi kekecewaan semakin bertambah ketika momen-momen perayaan seperti Lebaran dan Hari Kemerdekaan justru digunakan oleh SBY untuk memberikan remisi dan grasi kepada koruptor-koruptor kakap. Setahun pemerintahan SBY-Budiono telah terang-terang menghapus kebohongan citra ‘bersih’ yang hendak mereka ciptakan untuk diri mereka sendiri.
4. Gagal Turunkan Harga
Kebijakan liberalisasi perdagangan dijalankan pemerintah tanpa mempedulikan kepentingan industri nasional, sehingga industri-industri domestik terancam bangkrut akibat membanjirnya barang-barang impor. Di bidang pertanian, ketergantungan terhadap produk impor semakin mematikan penghidupan kaum tani dan menjadikan negeri ini sangat rentan terhadap lonjakan harga pangan, yang banyak dipengaruhi oleh spekulasi finansial terhadap komoditas pertanian dasar. Dengan menjalankan kebijakan neoliberal yang bertumpu pada kehendak pasar, SBY-Budiono membengkalaikan upaya membangun kedaulatan pangan dan tidak akan mampu mengontrol kenaikan harga yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Atas alasan-alasan di atas kami menyatakan bahwa pemerintahan SBY-Budiono telah gagal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya untuk memajukan bangsa dan menyejahterakan rakyat. Dengan ini kami menyerukan kepada segenap rakyat untuk melibatkan diri dan menggalang kekuatan untuk menyuarakan kegagalan pemerintahan SBY-Budiono dan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan yang mereka sebabkan.
Karena itu, kami akan melakukan konsultasi dengan rakyat, yaitu dengan menggalang tanda tangan mosi tidak percaya terhadap rejim neoliberal SBY-Budiono. Ini akan dilakukan dengan terjun langsung ke kampung-kampung, pemukiman, pabrik-pabrik, desa-desa, dengan mengetuk satu per satu pintu rumah rakyat dan menawarkan petisi untuk mosi tidak percaya untuk mengetahui bahwa telah banyak rakyat yang memandang SBY-Budiono gagal dan perlu segera diganti.
semoga apa yang disuarakan dari massa aksi mampu membuka mata fisik dan mata hati para pemimpin dan elit dinegeri ini. sadar atau tidak semua untuk kebaikan dan perbaikan bangsa kita.
saya hanya menginginkan sedikit dari aspirasi perwakilan massa masyarakat, bahwa semua hanya ingin satu yaitu perubahan bagi rakyat dan keadilan bersanding dengan kesejahteraan.
mari kita kritis dan peduli mengerti akan tugas kita, bahwa aksi kedang memang perlu sebagai penyampai aspirasi. dan masih banyak yang lain misal dengan menulis dan pastinya kita akan tahu dan sadar dengan sinambungnya tanggungjawab bersama dan kitalah sebagai generasi muda yang harus tampil untuk menginspirasi seluruh elemen masyarakat yang ada. saya sakin suatu saat pastu\i semua yang kita usahakan saat ini akan menuai hasil.
perubahan memang tidak hanya disuarakan tapi perlu ditambah dengan semangat dan aksi nyata.....
salam revolusi untuk perubahan.
sahardjo, malam hari dalam keheningan 20/10/2010
Kamis, 21 Oktober 2010
Jumat, 20 Agustus 2010
Menemukan Ketenangan
cerita ini mungkin sudah pernah didengar atau mungkin perna anda baca, tapi bagi saya ini menaring untuk dikaji. karena memberikan saya banyak inspirasi tentang kehidupan, khususnya dalam menghadapi keadaan. sehingga representasinya adalah pikiran dan ketenangan jiwa kita.
Coba anda lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang. Berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang yang mengalun ke penjuru telaga.
Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang itu? Mungkin anda mencoba dengan memasukkan telapak tangan anda ke dalam air. Atau. menghadangnya dengan ke dua belah kaki anda. Namun yang terjadi adalah semakin banyak anda melakukan sesuatu pada permukaan telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan. Satu-satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.
Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran. Semakin keras anda melakukan sesuatu pada pikiran anda. semakin sulit anda mencapai ketenangan itu. Amati saja. Jangan tolak atau menghentikan riak pikiran anda. Biarkan pikiran berangsur-angsur tenang. Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran; sedangkan ketenangan pikiran bermula dari ketenangan bernafas. Dalam nafas yang tenang temukan jiwa yang tenang.
saharjo, tebet.
Coba anda lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang. Berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang yang mengalun ke penjuru telaga.
Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang itu? Mungkin anda mencoba dengan memasukkan telapak tangan anda ke dalam air. Atau. menghadangnya dengan ke dua belah kaki anda. Namun yang terjadi adalah semakin banyak anda melakukan sesuatu pada permukaan telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan. Satu-satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.
Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran. Semakin keras anda melakukan sesuatu pada pikiran anda. semakin sulit anda mencapai ketenangan itu. Amati saja. Jangan tolak atau menghentikan riak pikiran anda. Biarkan pikiran berangsur-angsur tenang. Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran; sedangkan ketenangan pikiran bermula dari ketenangan bernafas. Dalam nafas yang tenang temukan jiwa yang tenang.
saharjo, tebet.
Kamis, 19 Agustus 2010
Selasa, 17 Agustus 2010
Seikat Pendaran suci dari nikmat Allah
blockquote
Menyusuri fajar dengan keyakinan, ungkapan ini sedikit saya jadikan kata yang jadi pembuka dalam perjalanan pagi ini. Entah itu kuasa atau memang jadi permulaan dalam menatap aktifitas hari ini. Habis tadarus sambil menunggu adzan subuh menikmati sholawatan terjalin bait untaian ayat dibaca untuk mengisi waktu fajar ini, inilah rutinitas yang mengisi hari dibulan ramadhan. Selesai membaca dan mengkaji dalam setiap ayat saya mendapatkan makna yang inspiratif dan luar biasa dari bacaan ayat-ayat suci al Qur’an pagi ini.
Bukti-bukti kekuasaan Tuhan: Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan DIa Maha Mengetahui segala sesuatu. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan yang serupa dan untuk mereka didalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal didalamnya (kenikmatan syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani, maupun rohani).
Begitu balasan bagi orang yang beriman disampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik. Allah menyediakan banyak keberkahan dan kenikmatan yang tiada terkira, termasuk anda yang membaca tulisan ini. Karena saya sendiri bisa menulis ini mungkin tidak biasanya dan saya bisa menuruti tangan dan ide kreatif ini untuk menggerakkan jari jemari dengan rapi. Lebih dari apa yang kita nikmati dan Allah berikan pada semua makhluknya yang dijelmakan melalui segala kenikmatan hingga kita semua harusnya mengucapkan banyak terimakasih karena semuanya gratis.
Bensin satu liter saja dihargai Rp. 4500,- sedangkan kita bisa menikmati air dan sirkulasi dalam tubuh ini tanpa syarat apapun dan Allah memberikannya Cuma-Cuma. Gas LPG tabung tiga kilogram dihargai 13-15ribu sedangkan kita setiap hari, jam, detik bahkan sekon tanpa apapun Allah memerikannya pada kita semua, apa yang kurang dari apa yang telah diberikan kita tidak menyadarinya. Bila kita ukur dengan nilai fisik atau materi mungkin kita hutang banyak pada sang pemberi hidup ini Allah SWT, tapi Allah tidak pernah meminta baik yang tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semuanya tidak dibedakan dan mereka yang hidup diberikan banyak dan tinggal kita apakah sadar mengakuinya atau malah lupa tanpa peduli.
Rentetan uraian diatas saya hanya menganalogikan betapa banyak dan tak terhitung kita diberikan banyak dan bila dalam perumpamaan; tatkala manusia diciptakan dan nyamuk diciptakan, banyak alasan mungkin diciptakan pula kita sebagai manusia bila menjawab; ada yang merasa nyamuk itu merugikan dan ada yang bilang menguntungkan. Merugikan karena kita merasakan darah kita dihisap dan bahkan datang penyakit demam berdarah mungkin, tapi bagi mereka yang bisa menangkap peluang dijadikan berkah atau keuntungan besar mereka menciptakan obat nyamuk dan sejenisnya untuk menghindarkan manusia dari gigitan nyamuk dan mungkin dalam keadaan tertentu jadi sebab penyakit demam berdarah yang bisa mengakibatkan matinya manusia.
Semua sudah ada skenarionya, Allah maha tahu dari apa yang dipikirkan makhluknya. Kita hanya mengerti sedikit dapi apa yang kita prediksi dan itulah yang perlu kita renungkan. Sayapun merasakan hal sama pada pagi ini, entah apa tatkala kumandang azan subuh bersahut-sahutan dari masjid dan mushola yang ada disekitar rumah yang ditempati, saya mengajak teman untuk jamaah dan ketika itu saya menunggunya ternyata sudah datang iqomah, saya pun segera menuju masjid terdekat dengan jalan kaki. Sholat subuh pun sudah dimulai rekaat pertama, tiba-tiba saya mendengar bacaan ayat surat dalam al Qur’an dilantunkan setelah saya lihat ternyata didepan halaman rumah didirakan jama’ah shalat subuh, saya pun bergegas menuju barisan jamaah shalat tersebut. Tak terpikir lagi menuju masjid karena niatan saya adalah berjamaah. Selesai sholat saya baru sadar dan memikirkan kenapa bisa saya memilih jama’ah dihalaman rumah tersebut? Kembali keawal, bahwa keyakinan akan harapan saya untuk berjamaah ternyata terjawab dan adanya kekuasaan Allah bahwa dalam pesan yang didapatkan adalah uraian makna yang saya dapatkan keterkaitan dalam ayat al Qur’an tadi. Bahkan dalam makna lain yang saya dapatkan diantaranya adalah “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. Dalam makna yang lebih luas shalat sendiri merupakan fase spirit-ritual yang terkandung didalamnya yaitu shalat sebagai penolong dan menjadi tolok ukur dalam subtansi kesabaran. Memang berat untuk mencapainya karena yang bisa mencapainya adalah orang-orang yang khusuk.
Ya, mungkin banyak yang lain dan tersirat dalam fakta yang berbeda, karena kita sebagai ummat Nabi Muhammad pasti mengharapkan syafaatnya dan itu merupakan usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi oran lain. Jelas rincian nikmat tidak dapat kita uraikan hingga keujung yang lebih rumit, tapi dipastikan bahwa kita semua adalah ciptaan Allah yang harusnya mensyukuri dalam segalanya dan mengerti atas ciptaannya.
Sebagai akhir tulisan ini saya hanya merenungkan betapa dahsyatnya kekuasaan Allah. Kita kadang mengeluhkan apa yang ditimpakan pada kita sewaktu-waktu, padahal kalau dirunut dan dipikirkan ternyata Allah mempunyai maksud yang lebih untuk mengangkat derajat manusia bukan karena materi, tapi karena tingkat kesabaran dan ketakwaannya. Yaitu ketika menghadapi ujian cobaan yang dihadirkan dan kalau kita meyakini ternyata banyak yang tersirat tanpa syarat.
Begitu panjang bila saya uraikan, semoga apa yang tertulis ini mampu menjadi inspirasi bagi saya pribadi dan menjadi manfaat bagi pembaca sekalian yang mengerti, karena masih banyak kekurangan dari apa yang saya uraikan. Tapi bukan berarti tidak ada maknanya. Demikian dari apa yang menjadi inspirasi pagi bahwa keyakinan menjadi awal dari eksekusi sikap kita dan yang pasti kita harus bergegas untuk memulai dari apa yang sudah kita niatkan dengan keyakinan dan tinggal kita menjalankan diri dalam ranah kemanfaatan. Maha suci Allah dengan segala firmannya.
Saharjo, menjelang pagi.05.30/17/08/2010
Menyusuri fajar dengan keyakinan, ungkapan ini sedikit saya jadikan kata yang jadi pembuka dalam perjalanan pagi ini. Entah itu kuasa atau memang jadi permulaan dalam menatap aktifitas hari ini. Habis tadarus sambil menunggu adzan subuh menikmati sholawatan terjalin bait untaian ayat dibaca untuk mengisi waktu fajar ini, inilah rutinitas yang mengisi hari dibulan ramadhan. Selesai membaca dan mengkaji dalam setiap ayat saya mendapatkan makna yang inspiratif dan luar biasa dari bacaan ayat-ayat suci al Qur’an pagi ini.
Bukti-bukti kekuasaan Tuhan: Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan DIa Maha Mengetahui segala sesuatu. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan yang serupa dan untuk mereka didalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal didalamnya (kenikmatan syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani, maupun rohani).
Begitu balasan bagi orang yang beriman disampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik. Allah menyediakan banyak keberkahan dan kenikmatan yang tiada terkira, termasuk anda yang membaca tulisan ini. Karena saya sendiri bisa menulis ini mungkin tidak biasanya dan saya bisa menuruti tangan dan ide kreatif ini untuk menggerakkan jari jemari dengan rapi. Lebih dari apa yang kita nikmati dan Allah berikan pada semua makhluknya yang dijelmakan melalui segala kenikmatan hingga kita semua harusnya mengucapkan banyak terimakasih karena semuanya gratis.
Bensin satu liter saja dihargai Rp. 4500,- sedangkan kita bisa menikmati air dan sirkulasi dalam tubuh ini tanpa syarat apapun dan Allah memberikannya Cuma-Cuma. Gas LPG tabung tiga kilogram dihargai 13-15ribu sedangkan kita setiap hari, jam, detik bahkan sekon tanpa apapun Allah memerikannya pada kita semua, apa yang kurang dari apa yang telah diberikan kita tidak menyadarinya. Bila kita ukur dengan nilai fisik atau materi mungkin kita hutang banyak pada sang pemberi hidup ini Allah SWT, tapi Allah tidak pernah meminta baik yang tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semuanya tidak dibedakan dan mereka yang hidup diberikan banyak dan tinggal kita apakah sadar mengakuinya atau malah lupa tanpa peduli.
Rentetan uraian diatas saya hanya menganalogikan betapa banyak dan tak terhitung kita diberikan banyak dan bila dalam perumpamaan; tatkala manusia diciptakan dan nyamuk diciptakan, banyak alasan mungkin diciptakan pula kita sebagai manusia bila menjawab; ada yang merasa nyamuk itu merugikan dan ada yang bilang menguntungkan. Merugikan karena kita merasakan darah kita dihisap dan bahkan datang penyakit demam berdarah mungkin, tapi bagi mereka yang bisa menangkap peluang dijadikan berkah atau keuntungan besar mereka menciptakan obat nyamuk dan sejenisnya untuk menghindarkan manusia dari gigitan nyamuk dan mungkin dalam keadaan tertentu jadi sebab penyakit demam berdarah yang bisa mengakibatkan matinya manusia.
Semua sudah ada skenarionya, Allah maha tahu dari apa yang dipikirkan makhluknya. Kita hanya mengerti sedikit dapi apa yang kita prediksi dan itulah yang perlu kita renungkan. Sayapun merasakan hal sama pada pagi ini, entah apa tatkala kumandang azan subuh bersahut-sahutan dari masjid dan mushola yang ada disekitar rumah yang ditempati, saya mengajak teman untuk jamaah dan ketika itu saya menunggunya ternyata sudah datang iqomah, saya pun segera menuju masjid terdekat dengan jalan kaki. Sholat subuh pun sudah dimulai rekaat pertama, tiba-tiba saya mendengar bacaan ayat surat dalam al Qur’an dilantunkan setelah saya lihat ternyata didepan halaman rumah didirakan jama’ah shalat subuh, saya pun bergegas menuju barisan jamaah shalat tersebut. Tak terpikir lagi menuju masjid karena niatan saya adalah berjamaah. Selesai sholat saya baru sadar dan memikirkan kenapa bisa saya memilih jama’ah dihalaman rumah tersebut? Kembali keawal, bahwa keyakinan akan harapan saya untuk berjamaah ternyata terjawab dan adanya kekuasaan Allah bahwa dalam pesan yang didapatkan adalah uraian makna yang saya dapatkan keterkaitan dalam ayat al Qur’an tadi. Bahkan dalam makna lain yang saya dapatkan diantaranya adalah “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. Dalam makna yang lebih luas shalat sendiri merupakan fase spirit-ritual yang terkandung didalamnya yaitu shalat sebagai penolong dan menjadi tolok ukur dalam subtansi kesabaran. Memang berat untuk mencapainya karena yang bisa mencapainya adalah orang-orang yang khusuk.
Ya, mungkin banyak yang lain dan tersirat dalam fakta yang berbeda, karena kita sebagai ummat Nabi Muhammad pasti mengharapkan syafaatnya dan itu merupakan usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi oran lain. Jelas rincian nikmat tidak dapat kita uraikan hingga keujung yang lebih rumit, tapi dipastikan bahwa kita semua adalah ciptaan Allah yang harusnya mensyukuri dalam segalanya dan mengerti atas ciptaannya.
Sebagai akhir tulisan ini saya hanya merenungkan betapa dahsyatnya kekuasaan Allah. Kita kadang mengeluhkan apa yang ditimpakan pada kita sewaktu-waktu, padahal kalau dirunut dan dipikirkan ternyata Allah mempunyai maksud yang lebih untuk mengangkat derajat manusia bukan karena materi, tapi karena tingkat kesabaran dan ketakwaannya. Yaitu ketika menghadapi ujian cobaan yang dihadirkan dan kalau kita meyakini ternyata banyak yang tersirat tanpa syarat.
Begitu panjang bila saya uraikan, semoga apa yang tertulis ini mampu menjadi inspirasi bagi saya pribadi dan menjadi manfaat bagi pembaca sekalian yang mengerti, karena masih banyak kekurangan dari apa yang saya uraikan. Tapi bukan berarti tidak ada maknanya. Demikian dari apa yang menjadi inspirasi pagi bahwa keyakinan menjadi awal dari eksekusi sikap kita dan yang pasti kita harus bergegas untuk memulai dari apa yang sudah kita niatkan dengan keyakinan dan tinggal kita menjalankan diri dalam ranah kemanfaatan. Maha suci Allah dengan segala firmannya.
Saharjo, menjelang pagi.05.30/17/08/2010
Senin, 16 Agustus 2010
Ritual Merdeka VS Sengsara, Menyambut Dirgahayu Indonesia ke-65
Tidak terasa telah 65 tahun berlalu Negara ini diperingati atas nama “KEMERDEKAAN”, lalu apakah selama ini benar adanya kemerdekaan ada di hati kecil kita? Realitas tidak bisa dipungkiri bahwa penjajahan sudah musnah penindasan telah usai hanya isapan jempol belaka. Sudah 65 tahun diperingati setiap tanggal 17 agustus dengan upacara bahkan lomba bahkan kadang kemenyanpun ikut meramaikan ritual untuk menyatakan satu persyaratan bahwa Negara ini dilegitimasi sudah “MERDEKA”.
Ironi ritualitas dan keterpaksaan sejarah mengakibatkan semua meyakini bahwa Indonesia kini layak di peringati, Agustus dan 17 adalah sandingan yang menguatkan bahwa segalanya menjadi “WAH” padahal menurut saya menjadi terbalik dan kemerdekaan menjadi semu bahkan sirna. Bisa kita dekte satu persatu diantaranya kesengsaraan berwujud kemiskinan dan gelandangan menghiasi negeri ini. Bahkan banyak lagi yang terus menyeruak dimata kita akan realitas yang sesungguhnya bahawa merdeka hanya menjadi tanda Tanya besar (?).
Mungkin sengsara yang pantas, ternyata merdeka masih jauh disana, mungkin Indonesia butuh meditasi untuk mencapai kemerdekaan dan pembebasan sejati. Meditasi ekstra dan mendalam adalah konskwensi karena kemerdekaan masih jauh dari panggang api yang hadir adalah paradoks Negara yang penuh dengan hamparan penderitaan rakyat akibat system yang tidak memihak rakyat kecil agar mereka dapat terentaskan.
Mungkin lembek tidak tegas bahkan terlalu kasar untuk diucapkan oleh kita, tapi keadaan itu ada dan dilakukan oleh pemimpin negeri ini. Semoga kita sadar di tengah kemeriahan yang dipaksa untuk dijejalkan dimata rakyat yang masih susah mencari sesuap nasi. Sumber alam dieksploitasi, kesejahteraan hanya retorika dan lipstick untuk pencitraan. Bila kita sandingkan dengan bulan ini adanya ramadhan ditengah pikuk kemeriahan peringatan maka kita akan sadar bahwa merdeka tidaklah mudah merdeka adalah rakyat bisa bebas bisa menikmatinya dengan bertanggungjawab.
Investor menari-nari dari tangan panjang neoliberalisme, sumber daya alam and sumber daya manusia ikut diobok-obok dibeli murah bahkan tidak dihargai. Kesejah teraan Indonesia justru dinikmati bangasa asing, dan rakyat harus mengatakan merdeka tapi realitasnya mereka sengsara. Notabene orang Indonesia asli diinjak-injak oleh kartel konglomerasi internasional dengan dalih pemerataan kerja sehingga buruh hanya dijadikan tenaga kontrak.
Rakyat miskin yang sesuai undang-undang dasar 1945 seharusnya dipelihara oleh negara malahan dibiarkan nasibnya terlunta-lunta di negeri sendiri. Perekonomian negara selalu dibimbangkan dengan ulah pialang-pialang yang memainkan mata uang rupiah yang semakin terbuang sampai-sampai tidak ada lagi bangsa Indonesia yang tahu arti besarnya uang Rp 1,-, bahkan meng-isukan alih lain dengan istilah”redenominasi” siapa yang akan menjamin perekonomian indonesia akan dapat disejajarkan dimata dunia bahkan bangkit secara nyata dibuktikan pada dunia.
Sangat menyedihkan, untuk digambarkan sejatinya negeri ini, siapakah yang akan bertanggungjawab untuk semuanya? Pemerintah, pengusaha, atau rakyat yang jadi penguasa? Pemerintahlah yang memberikan andil yang sangat besar pada keterpurukan bangsa Indonesia. Pemerintah tidak berpihak pada rakyat...!!! Rakyat tidak bangga pada Bangsa Indonesia ... !!! Pihak Asing hanya mengeruk kekayaan Indonesia semata ...!!! Itulah kunci pokok permasalahan kenapa selama ini Indonesia masih merasakan penjajahan.
Lalu dari semuanya saya hanya bertanya 65 tahun ini mau dibawa kemana? Sanggupkah pemerintah membela rakyat? Berantas korupsi, kolusi dan nepotisme, mengangkat kesejahteraan dalam realitas nyata bukan retorika. Merebut kemerdekaan nyata adalah suatu keharusan, kapan pemimpin yang bekerja atas nama rakyat dan hinggap di pemerintahan akan bekerja nyata untuk Negara dengan tegas bukan “letoy” atau bahkan curhat untuk mengait hati rakyat. Dibutuhkan karya nyata untuk semua melepaskan belenggu kesengsaraan yang saat ini singgah dan betah dikehidupan rakyat Indonesia. Kapan lagi kalau bukan dimulai sekarang juga, kita semua sudah tidak tahan penjajahan terus menerus dipelihara dalam atmosfer yang mengkondisikan pemimpin-pemimpin seperti dicocok hidungnya dan dikenadalikan oleh asing.
Semoga kita tahu dan sedia untuk mengurai benang yang kusut kesengsaraan untuk sanggup dengan tindakan dan hati mengatakan merdeka. Saya menjadi miris tatkala 17 agustus diperingati bahkan, harusnya semua rakyat disadarkan bahwa hari ini kita harus bangkit untuk membangun jati diri bangsa yang kini telah diinjak-injak. Mari kita menggugat kemerdekaan untuk membangun indonesia yang baru. Indonesia yang bebas dari intervensi asing dan berani tegas dimata dunia.
Tunjukkan harga diri bangsa ini bukan hanya pencitraan yang sebatas utopis berwujud mengelabui. Mari tegaskan stop dan hentikan kesengsaraa dan penderitaan rakyat untuk mewujudkan kesejahteraan disemua lapisan masyarakat. Karena kemiskinan, ketidakberdayaan menjadi kunci bahwa kita belum merdeka dan kita harus mau membaca, tegas katakana tidak untuk semua itu.
Marilah bersama di bulan ramadhan ini, dibulan agustus ini bertepatan dengan bulan suci untuk memerdekakan diri untuk kembali bahwa kita harus merdeka dengan senyatanya. Sesuai dengan itu maka ramadhan, agustus dan Indonesia butuh teladan, uswah dari semuanya khususnya pemimpin negeri ini bukan ritual tirakatan yang dilakukan tiap tahunan.
Stop dan hentikan kemiskinan dan kesengsaraan akibat dari system Negara yang semakin tidak karuan jeluntrungnya. Hidup adalah untuk member dan bukti untuk bermanfaat demikian juga dengan kemerdekaan adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditawar ulang dan harga mati seperti gagasan tan malaka “MERDEKA 100%”.
Saharjo, 16/08/2010.
Menjelang peringatan ritual kemerdekaan ke-65/2330,
Ironi ritualitas dan keterpaksaan sejarah mengakibatkan semua meyakini bahwa Indonesia kini layak di peringati, Agustus dan 17 adalah sandingan yang menguatkan bahwa segalanya menjadi “WAH” padahal menurut saya menjadi terbalik dan kemerdekaan menjadi semu bahkan sirna. Bisa kita dekte satu persatu diantaranya kesengsaraan berwujud kemiskinan dan gelandangan menghiasi negeri ini. Bahkan banyak lagi yang terus menyeruak dimata kita akan realitas yang sesungguhnya bahawa merdeka hanya menjadi tanda Tanya besar (?).
Mungkin sengsara yang pantas, ternyata merdeka masih jauh disana, mungkin Indonesia butuh meditasi untuk mencapai kemerdekaan dan pembebasan sejati. Meditasi ekstra dan mendalam adalah konskwensi karena kemerdekaan masih jauh dari panggang api yang hadir adalah paradoks Negara yang penuh dengan hamparan penderitaan rakyat akibat system yang tidak memihak rakyat kecil agar mereka dapat terentaskan.
Mungkin lembek tidak tegas bahkan terlalu kasar untuk diucapkan oleh kita, tapi keadaan itu ada dan dilakukan oleh pemimpin negeri ini. Semoga kita sadar di tengah kemeriahan yang dipaksa untuk dijejalkan dimata rakyat yang masih susah mencari sesuap nasi. Sumber alam dieksploitasi, kesejahteraan hanya retorika dan lipstick untuk pencitraan. Bila kita sandingkan dengan bulan ini adanya ramadhan ditengah pikuk kemeriahan peringatan maka kita akan sadar bahwa merdeka tidaklah mudah merdeka adalah rakyat bisa bebas bisa menikmatinya dengan bertanggungjawab.
Investor menari-nari dari tangan panjang neoliberalisme, sumber daya alam and sumber daya manusia ikut diobok-obok dibeli murah bahkan tidak dihargai. Kesejah teraan Indonesia justru dinikmati bangasa asing, dan rakyat harus mengatakan merdeka tapi realitasnya mereka sengsara. Notabene orang Indonesia asli diinjak-injak oleh kartel konglomerasi internasional dengan dalih pemerataan kerja sehingga buruh hanya dijadikan tenaga kontrak.
Rakyat miskin yang sesuai undang-undang dasar 1945 seharusnya dipelihara oleh negara malahan dibiarkan nasibnya terlunta-lunta di negeri sendiri. Perekonomian negara selalu dibimbangkan dengan ulah pialang-pialang yang memainkan mata uang rupiah yang semakin terbuang sampai-sampai tidak ada lagi bangsa Indonesia yang tahu arti besarnya uang Rp 1,-, bahkan meng-isukan alih lain dengan istilah”redenominasi” siapa yang akan menjamin perekonomian indonesia akan dapat disejajarkan dimata dunia bahkan bangkit secara nyata dibuktikan pada dunia.
Sangat menyedihkan, untuk digambarkan sejatinya negeri ini, siapakah yang akan bertanggungjawab untuk semuanya? Pemerintah, pengusaha, atau rakyat yang jadi penguasa? Pemerintahlah yang memberikan andil yang sangat besar pada keterpurukan bangsa Indonesia. Pemerintah tidak berpihak pada rakyat...!!! Rakyat tidak bangga pada Bangsa Indonesia ... !!! Pihak Asing hanya mengeruk kekayaan Indonesia semata ...!!! Itulah kunci pokok permasalahan kenapa selama ini Indonesia masih merasakan penjajahan.
Lalu dari semuanya saya hanya bertanya 65 tahun ini mau dibawa kemana? Sanggupkah pemerintah membela rakyat? Berantas korupsi, kolusi dan nepotisme, mengangkat kesejahteraan dalam realitas nyata bukan retorika. Merebut kemerdekaan nyata adalah suatu keharusan, kapan pemimpin yang bekerja atas nama rakyat dan hinggap di pemerintahan akan bekerja nyata untuk Negara dengan tegas bukan “letoy” atau bahkan curhat untuk mengait hati rakyat. Dibutuhkan karya nyata untuk semua melepaskan belenggu kesengsaraan yang saat ini singgah dan betah dikehidupan rakyat Indonesia. Kapan lagi kalau bukan dimulai sekarang juga, kita semua sudah tidak tahan penjajahan terus menerus dipelihara dalam atmosfer yang mengkondisikan pemimpin-pemimpin seperti dicocok hidungnya dan dikenadalikan oleh asing.
Semoga kita tahu dan sedia untuk mengurai benang yang kusut kesengsaraan untuk sanggup dengan tindakan dan hati mengatakan merdeka. Saya menjadi miris tatkala 17 agustus diperingati bahkan, harusnya semua rakyat disadarkan bahwa hari ini kita harus bangkit untuk membangun jati diri bangsa yang kini telah diinjak-injak. Mari kita menggugat kemerdekaan untuk membangun indonesia yang baru. Indonesia yang bebas dari intervensi asing dan berani tegas dimata dunia.
Tunjukkan harga diri bangsa ini bukan hanya pencitraan yang sebatas utopis berwujud mengelabui. Mari tegaskan stop dan hentikan kesengsaraa dan penderitaan rakyat untuk mewujudkan kesejahteraan disemua lapisan masyarakat. Karena kemiskinan, ketidakberdayaan menjadi kunci bahwa kita belum merdeka dan kita harus mau membaca, tegas katakana tidak untuk semua itu.
Marilah bersama di bulan ramadhan ini, dibulan agustus ini bertepatan dengan bulan suci untuk memerdekakan diri untuk kembali bahwa kita harus merdeka dengan senyatanya. Sesuai dengan itu maka ramadhan, agustus dan Indonesia butuh teladan, uswah dari semuanya khususnya pemimpin negeri ini bukan ritual tirakatan yang dilakukan tiap tahunan.
Stop dan hentikan kemiskinan dan kesengsaraan akibat dari system Negara yang semakin tidak karuan jeluntrungnya. Hidup adalah untuk member dan bukti untuk bermanfaat demikian juga dengan kemerdekaan adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditawar ulang dan harga mati seperti gagasan tan malaka “MERDEKA 100%”.
Saharjo, 16/08/2010.
Menjelang peringatan ritual kemerdekaan ke-65/2330,
Kamis, 12 Agustus 2010
Sisa Umurku
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru…
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Ya Allah….
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
PASTINYA
Allah kan menjawab sanggupkah engkau menjalani kehidupanmu dengan pilihan-pilihan yang lebih......
Lebih keras
lebih terencana
lebih giat
lebih semangat
lebih memanfaatkan kesempatan diwaktu yang tersisa....
Lebih...lebih dan......
Datang sudah hari ini,
Hari dimana dulu aku dilahirkan
Hari dimana orang tertawa sekaligus haru
Menjelang perkenalanku dengan dunia ini
Hari ini aku mengenang kembali
Kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidup
Kemudian dalam diri ini bertanya lagi
Tuhan, berapakah sisa umurku?
Apakah setahun lagi?
Sepuluh tahun lagi?
Atau malah sisa sehari?
Tuhan berilah hamba kekuatan untuk menjalani proses
Karena semakin bertambahnya usia berarti dikurangi jatah kehidupannya.....
Sehingga harus tetap dan selalu bersyukur dan memanfaatkan etiap waktu yang tersisa....
Semoga diberikan tambah ilmu dan rezeki dan lainnya.........
Semoga allah mendengar ikhtiar dan doa doa .........
Tuhan, kalau memang ini perbuatan baik,
Sekali-kalinya yang bisa kulakukan dalam hidupku,
Ijinkanlah aku berterima kasih padaMu
Terima kasih atas umurku….
Barokallah….
Amien…..
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru…
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Ya Allah….
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
PASTINYA
Allah kan menjawab sanggupkah engkau menjalani kehidupanmu dengan pilihan-pilihan yang lebih......
Lebih keras
lebih terencana
lebih giat
lebih semangat
lebih memanfaatkan kesempatan diwaktu yang tersisa....
Lebih...lebih dan......
Datang sudah hari ini,
Hari dimana dulu aku dilahirkan
Hari dimana orang tertawa sekaligus haru
Menjelang perkenalanku dengan dunia ini
Hari ini aku mengenang kembali
Kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidup
Kemudian dalam diri ini bertanya lagi
Tuhan, berapakah sisa umurku?
Apakah setahun lagi?
Sepuluh tahun lagi?
Atau malah sisa sehari?
Tuhan berilah hamba kekuatan untuk menjalani proses
Karena semakin bertambahnya usia berarti dikurangi jatah kehidupannya.....
Sehingga harus tetap dan selalu bersyukur dan memanfaatkan etiap waktu yang tersisa....
Semoga diberikan tambah ilmu dan rezeki dan lainnya.........
Semoga allah mendengar ikhtiar dan doa doa .........
Tuhan, kalau memang ini perbuatan baik,
Sekali-kalinya yang bisa kulakukan dalam hidupku,
Ijinkanlah aku berterima kasih padaMu
Terima kasih atas umurku….
Barokallah….
Amien…..
Minggu, 08 Agustus 2010
santunan rasa
Selayang mengembang
Bersandar dalam perlawanan
Seperti ada yang memanggil
Bening berkaca-kaca
Menyayat kesunyian
Berurai kalimat tak terbatas
Mewarnai pesona keramahan
Kadang tak terlihat Nampak nyata
Barisan barisan
Suara menggarang
Menyusuri belantara belukar
Menusuk cerita yang berumur nasehat
Cukup didapat pesan
Dibawa mau ditinggal lari
Melingkar tak tentu
Siapa yang tahu tentang semua ini
Supaya menjelma menjadi penjarah
Berpaling dari peradaban
Wahai kawan…
Kapan kita membelah kesunyian masa
Mari solidkan…..
Suatu saat akan dating
Keberanian yang nyata
Mungkin menyayi dalam realitas
Menjawab untuk member
Satu menang hingga menjadi dikenang
Wahai…..
Pengelana……
Marilah peradaban ini kita warnai
Ungkap misteri mendulang rizki
Semoga kita mengerti
Jejak nyata ini semua
Bersandar dalam perlawanan
Seperti ada yang memanggil
Bening berkaca-kaca
Menyayat kesunyian
Berurai kalimat tak terbatas
Mewarnai pesona keramahan
Kadang tak terlihat Nampak nyata
Barisan barisan
Suara menggarang
Menyusuri belantara belukar
Menusuk cerita yang berumur nasehat
Cukup didapat pesan
Dibawa mau ditinggal lari
Melingkar tak tentu
Siapa yang tahu tentang semua ini
Supaya menjelma menjadi penjarah
Berpaling dari peradaban
Wahai kawan…
Kapan kita membelah kesunyian masa
Mari solidkan…..
Suatu saat akan dating
Keberanian yang nyata
Mungkin menyayi dalam realitas
Menjawab untuk member
Satu menang hingga menjadi dikenang
Wahai…..
Pengelana……
Marilah peradaban ini kita warnai
Ungkap misteri mendulang rizki
Semoga kita mengerti
Jejak nyata ini semua
Langganan:
Postingan (Atom)