SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI PERADABAN AGUS THOHIR

Kamis, 29 Mei 2008

Dibalik Manuver Politik BBM, BLT Versus BKM dan Saatnya Mahasiswa Bergerak...…Kawan….

Tak pernah terfikirkan dalam benak kita bersama ketika BBM benar-menar mencekik leher rakyat, dengan dalih harga minyak dunia naik dan harga minyak di Indonesaia pun ikut-ikutan naik juga. Sungguh tak bermoral benar para petinggi dan pemegang kebijakan negara ini ketika itu menjadi pilihan. Dengan mengalih fungsikan negara yang seharusnya berpihak pada rakyat tapi apa yang terjadi dinegeri ini ? malah sebaliknya negara menjadi ajang komoditas bisnis yang mencari keuntungan-keuntungan dibalik kebijakan yang memihak kepara para pemodal yang endingnya Indonesia bertekuk lutut terhadap konsensus Washington (kapitalisme) sebagai wujud lama dan berevolusi menjadi kebijakan yang mengebiri masyarakt kecil.
Kebijakan yang laiknya diterapkan kecuali dalam keadaan terpepet dan sudah tidak ada usaha lain yang bisa mengatasi untuk mengimbangi hargadiri bangsa. Inilah kiranya yang bisa digambarkan pada bangsa merah putih tertunduk lesu akibat penyakit permanen (kebobrokan mentalitas pemimpin) inlender dan bermental budak. Akankah kita sebagai bagian dari bangsa hanya diam dan merenung?
Saatnyalah kita sadar dan tersadar ulang untuk menganalisa terhadap kebijakan naiknya BBM dan diturunkannya BLT dan ditambah lagi BKM untuk mahasiswa. BLT adalah suatu keharusan dan kewajiban negara sesuai dengan amanat konstitusi 1945 ”fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” dan tanpa harus dinaikkan BBM negara berkewajiban memberi tanpa embel-embel lain ini.
Kini kita tahu ternyata ada udang dibalik batu termasuk BBM naik masyarakat diiming-imingi dengan diberi BLT dan yang terbaru mahasiswa dikebiri dengan mengeluarkan BKM. Ini seolah suap terselubung dan sistemik yang harus kita lawan. Psikologi peredaman ini tidak fair dan gentle, negara takut terhadap amuk massa yang terlahir kembali dalam menjelang kesadaran bersama.
Titik konfrontasi negara indonesia pada tahun 2008 pemerintah SBY-JK semakin tajam dan dipenuhi polemik represifitas dari aparat. Mahasiswa bergerak bersuara lantang untuk menyedarkan masyarakat harusnya didukung bukan malah dibiarkan begitu saja. Dinamika politik berbicara lain, bangsa ini telah berubah iklimnya! Demokrasi bukan hanya sebagai simbol tapi esensi dari demokrasi haruslah digali dan dijalankan, bukan sebatas prosedural birokrasi belaka.
Jangan sampai ada dusta!, jangan sampai ada perselingkuhan di elite dinegeri ini dengan para borjuasi (kapitalisme-neoliberalisme). Mahasiswa harusnya memikirkan ulang akan tugasnya sebagai agen of social change, ketika hanya diam disaat ada penindasan yang merajalela di hati dan pori-pori negeri tercinta ini adalah kejahatan Revolusi.
Tanpa pandang bulu, apakah mahasiswa takut dan diam oleh hegemoni pragmatisme? Tentu tidak ! itu jawaban pasti dan tidak bisa diganggu gugat dan harga mati, moral kita dipertaruhkan diantara kebijakan –kebijakan yang meluluhlantakkan nurani masyarakat kita.
Jati diri bangsa akankah digadaikan? Jangan sampai itu hemat saya. Kenapa karena sudah banyak bukti orientasi kemenangan dan kekuasaan untuk mendapat untung sebesar-besarnya itu telah menjadi ideologi para pemimpin kita. Harusnya kita lawan dengan idealisme besar dan keberanian untuk mempertegas fungsi negara kita sebagai peranannya, mahasiswa harusnya mempunyai Visi kepeimpinan dan ideologi komitmen mensejahterakan msyarakat.
Komitmen kerakyatan inilah yang tidak dipunyai oleh para elite, pemimpin dan wakil rakyat kita yang terselubung dalam sistem. Birokrat dalam birokrasi ini harus kita ketuk hatinya dan disadarkan dengan terus dan terus melakukan penyuaraan melalui berbagai aksi. Mahasiswa harus tetap mempertegas dan mempertahankan idealisme dan gagasan kritisnya untuk tetapmenjadi garda depan bangsa ini agar dapat menjadi lebih makmur dan berkeadilan.
Eksistensi gerakan atas berbagai kebijakan harus kita tawarkan atas segalanya. Masalah butuh solusi, bukan malah dipolitisasi. Termasuk BBM sebagai tendensi atas kebijakan yang tidak merakyat.
BBM naik bukan solusi! BLT turun itu sudah pasti karena sesuai kontitusi tanpa harus dibuat alasan dengan dibarengi naiknya BBM! BKM untuk mengebiri”mahasiswa” dan BLT bukanlah infak negara, tapi pajak adalah kewajiban rakyat dan dana pergulir harusnya megucur untuk kesejahteraan rakyat bukan malah dipolitisasi dengan alasan busuk.
Apalagi BKM adalah bengebiran dan bahkan itu adalah uang sogok dari pimpinan birokrasi arogan untuk meredamkan kemarahan dan emosi rakyat kita, khususnya mahasiswa.
Ada apa dibalik semua ini! Kita harus waspada terhadap perilaku para pembuat kebijakan!!!!
Bercermin dari sejarah bangsa ini, kita harus tahu bahwa inilah saatnya arus gelombang dan momentum besar ini kita jadikan tonggak kesadaran utuk bersatu mengutkan peran civil society.
Mahasiswa adalah dasar (akar rumput) terhebat dan tidak ada tandingannya kalau kita mau mengkaji dan sadar menyadari akan tugas kita, tapi akankah menjadi porak poranda atau bahkan tumpul?
Sebagai gerakan intelektual, gerakan sosial, gerakan politik, gerakan moral dan lainnya kita harus mulai mengembalikan elan vitalnya. Integritas itulah yang menjadi sepadan dengan tugasnya, saat inilah kita harus terbangun dan terjaga untuk tetap dan terus berjuang tanpa lekang oleh zaman. Kita berjuang intuk menegakkan keadilan dan mencapai konsistensi perjuangan dan satu untuk rakyat dan rakyat supaya sejahtera.
Lebih baik diasingkan daripada hidup dalam kemunafikan”gie” adalah pilihan dan konswensi tugas dan kita harus membuat evolusi berujung pada revolusi melawan kesemena-menaan di segala lini dan pelosok negeri merah putih ini.
Torehkanlah kebenaran dan kibarkan panji kemanusiaan ….. untuk adil seadil-adilnya!!!
Carilah solusi untuk negeri ini, bukan malah mempolitisasi kebijakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Merdeka 100% adalah harga mati dan tak bisa ditawar lagi untuk keadilan bangsa yang berpihak pada masyarakat.
Medoho, 29 Mei 2008

1 komentar:

Yana mengatakan...

Inilah negara dimana para mafia berkuasa.